KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank-bank berkapitalisasi besar yang telah melaporkan kinerja keuangan pada tahun buku 2025 mencatatkan kinerja laba bersih yang cukup beragam. Bank jumbo seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menunjukkan dinamika kinerja yang dipengaruhi tekanan suku bunga tinggi sepanjang tahun lalu. BBCA menjadi bank dengan raihan laba terbesar mencapai Rp57,5 triliun, tumbuh 4,9% secara tahunan (year on year/yoy). Disusul BBRI yang membukukan laba bersih Rp57,13 triliun, meskipun capaian tersebut menyusut 5,26% yoy.
Pertumbuhan Kredit: BBNI Tertinggi
Dari sisi penyaluran kredit, BBNI mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,9% menjadi Rp899,53 triliun. Diikuti oleh:- BMRI: naik 13,4% menjadi Rp1.895 triliun
- BBRI: tumbuh 12,31% menjadi Rp1.521,49 triliun
- BBCA: naik 7,7% menjadi Rp993 triliun
Dana Pihak Ketiga: BMRI Unggul
Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK):- BMRI mencatat DPK terbesar Rp2.105,8 triliun (+23,9%)
- BBRI sebesar Rp1.466,84 triliun (+7,4%)
- BBCA mencapai Rp1.249 triliun (+10,2%)
- BBNI sebesar Rp1.040 triliun (+29,2%)
Suku Bunga Tinggi Tekan Laba
Senior Market Analyst Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai, tekanan utama terhadap laba perbankan sepanjang 2025 berasal dari kebijakan suku bunga tinggi. “Laba bersih 2025 memang cenderung cukup lesu. Sentimen utamanya adalah meningkatnya cost of fund sebagai akibat dari kebijakan suku bunga yang cukup lama berada di level tinggi sebelum akhirnya melandai,” ujarnya kepada kontan.co.id, Kamis (26/2/2026). Likuiditas yang ketat membatasi ekspansi margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Namun, kinerja industri masih dinilai sesuai ekspektasi pasar. “Paling tidak kinerjanya masih sesuai target dan guidance analis. Perbankan memang tidak mengejar laba agresif, tapi lebih menitikberatkan pada kualitas aset,” katanya.Prospek 2026: Kredit Berpotensi Bangkit
Memasuki 2026, prospek sektor perbankan dinilai lebih cerah seiring penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia ke level 4,75%. Baca Juga: 17 Tahun Berdiri, PT SMI Salurkan Pembiayaan Mencapai Rp 274,96 Triliun “Penurunan suku bunga ini ditujukan agar permintaan kredit bisa meningkat. Kalau cost of fund turun, maka potensi perbaikan NIM akan terjadi secara bertahap,” jelasnya. Ia memperkirakan laba perbankan berpotensi kembali tumbuh dua digit dengan dukungan:- Penurunan biaya dana
- Stabilnya rasio kredit bermasalah (NPL)