BELAKANGAN, kita semakin sering menjumpai gerai minuman teh dengan aneka varian rasa. Munculnya gerai-gerai tersebut tak lepas dari pasarnya yang cukup besar. Maklum, teh sudah menjadi salah satu minuman sehari-hari masyarakat Indonesia. Yanti Faradilla, pebisnis asal Medan, menangkap kebiasaan ini sebagai peluang bisnis. Sejak 2005, dia memulai bisnis minuman teh dengan 16 rasa buah, kopi, dan campuran kopi dengan rasa buah. Yanti memberi merek produknya Men United, yang artinya kumpulan semua orang. Yang istimewa, dari 16 rasa teh pilihan, Yanti menawarkan dua rasa buah khas Medan, yaitu markisa dan terong belanda. Sedangkan kopinya memakai kopi Sidikalang. Yakin teh dengan berbagai varian rasanya itu bakal laku, sejak akhir 2007, Yanti menawarkan kemitraan. Dia membebaskan biaya pemakaian nama dan royalty fee. Mitra boleh memakai nama Men United selama lima tahun, selanjutnya Yanti akan menggunakan perkembangan bisnis si mitra untuk mengevaluasi kerjasama. Saat ini, Yanti sudah menggandeng sembilan mitra, yang tersebar di Medan, Batam, Semarang, Balikpapan, dan di Karawang. "Bahkan, baru-baru ini sudah ada penawaran dari calon mitra di Singapura," sebutnya. Yanti menawarkan tiga tipe kerjasama, yakni: Pertama, model booth yang khusus menjual teh. Investasi awal Rp 5,5 juta. Dengan membayar segitu, mitra mendapat satu set perlengkapan, bahan dagangan pertama, buku resep, dan seragam. Model booth ini untuk kelas kaki lima, sekolahan, kampus, atau pertokoan. Harga secangkir atau satu cup teh Rp 2.500 hingga Rp 4.000. Sedangkan harga kopi Rp 5.000 hingga ?Rp 9.000 per cup. Dengan perkiraan minimal menjual 50 cup teh dan 30 cup kopi, dalam sehari omzet mitra Rp 320.000. Dengan perhitungan penjualan selama 26 hari, omzet si mitra perbulannya mencapai Rp 8,32 juta. Setelah dikurangi biaya pegawai, bahan baku dan operasional, laba bersih si mitra Rp 2,9 juta per bulan. Dengan laba sebesar itu, balik modal cuma butuh waktu 2,4 bulan. Kedua, model booth eksklusif dengan investasi awal Rp Rp 14 juta untuk teh dan kopi. Tampilan booth ini lebih eksklusif dengan pemakaian kanopi, sehingga cocok untuk di mal. Selain satu set perlengkapan seperti pada booth standar, mitra akan mendapat satu set tea dispenser. Jika mitra bisa menjual 100 cup teh dan 50 cup kopi sehari, omzetnya Rp 655.000 sehari. Setelah dikurangi pengeluaran dan sewa tempat, keuntungannya sekitar Rp 5,4 juta per bulan. Dus, si mitra akan balik modal dalam 2,7 bulan. Ketiga, model mini cafe. Harga paket investasi awalnya Rp 35 juta. Mitra akan mendapat satu gerai knock down dengan luas 2x2 meter, kursi dan meja, serta satu set perlengkapan. Yanti mensyaratkan lokasi mini cafe harus strategis dan memiliki fasilitas hotspot. Dengan penjualan minimal 200 cup teh dan 50 cup kopi sehari, si mitra akan mendapat omzet Rp 1,1 juta per hari atau Rp 33 juta perbulan. Setelah dikurangi pengeluaran, gaji dua pegawai, dan sewa tempat sebesar Rp 3,5 juta, marginnya sebesar Rp 12 juta per bulan. Mitra Men United di Medan, Narni, tertarik menjadi mitra karena produk teh yang dijualnya berbeda dengan minuman teh umumnya. Narni bisa meraup omzet Rp 600.000-Rp 800 .000 per hari. "Tergantung cuaca juga, kalau panas, banyak yang beli," ujar Narni yang mengaku balik modal dalam tiga bulan.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Adukan Laba Teh dan Kopi Rasa Buah
BELAKANGAN, kita semakin sering menjumpai gerai minuman teh dengan aneka varian rasa. Munculnya gerai-gerai tersebut tak lepas dari pasarnya yang cukup besar. Maklum, teh sudah menjadi salah satu minuman sehari-hari masyarakat Indonesia. Yanti Faradilla, pebisnis asal Medan, menangkap kebiasaan ini sebagai peluang bisnis. Sejak 2005, dia memulai bisnis minuman teh dengan 16 rasa buah, kopi, dan campuran kopi dengan rasa buah. Yanti memberi merek produknya Men United, yang artinya kumpulan semua orang. Yang istimewa, dari 16 rasa teh pilihan, Yanti menawarkan dua rasa buah khas Medan, yaitu markisa dan terong belanda. Sedangkan kopinya memakai kopi Sidikalang. Yakin teh dengan berbagai varian rasanya itu bakal laku, sejak akhir 2007, Yanti menawarkan kemitraan. Dia membebaskan biaya pemakaian nama dan royalty fee. Mitra boleh memakai nama Men United selama lima tahun, selanjutnya Yanti akan menggunakan perkembangan bisnis si mitra untuk mengevaluasi kerjasama. Saat ini, Yanti sudah menggandeng sembilan mitra, yang tersebar di Medan, Batam, Semarang, Balikpapan, dan di Karawang. "Bahkan, baru-baru ini sudah ada penawaran dari calon mitra di Singapura," sebutnya. Yanti menawarkan tiga tipe kerjasama, yakni: Pertama, model booth yang khusus menjual teh. Investasi awal Rp 5,5 juta. Dengan membayar segitu, mitra mendapat satu set perlengkapan, bahan dagangan pertama, buku resep, dan seragam. Model booth ini untuk kelas kaki lima, sekolahan, kampus, atau pertokoan. Harga secangkir atau satu cup teh Rp 2.500 hingga Rp 4.000. Sedangkan harga kopi Rp 5.000 hingga ?Rp 9.000 per cup. Dengan perkiraan minimal menjual 50 cup teh dan 30 cup kopi, dalam sehari omzet mitra Rp 320.000. Dengan perhitungan penjualan selama 26 hari, omzet si mitra perbulannya mencapai Rp 8,32 juta. Setelah dikurangi biaya pegawai, bahan baku dan operasional, laba bersih si mitra Rp 2,9 juta per bulan. Dengan laba sebesar itu, balik modal cuma butuh waktu 2,4 bulan. Kedua, model booth eksklusif dengan investasi awal Rp Rp 14 juta untuk teh dan kopi. Tampilan booth ini lebih eksklusif dengan pemakaian kanopi, sehingga cocok untuk di mal. Selain satu set perlengkapan seperti pada booth standar, mitra akan mendapat satu set tea dispenser. Jika mitra bisa menjual 100 cup teh dan 50 cup kopi sehari, omzetnya Rp 655.000 sehari. Setelah dikurangi pengeluaran dan sewa tempat, keuntungannya sekitar Rp 5,4 juta per bulan. Dus, si mitra akan balik modal dalam 2,7 bulan. Ketiga, model mini cafe. Harga paket investasi awalnya Rp 35 juta. Mitra akan mendapat satu gerai knock down dengan luas 2x2 meter, kursi dan meja, serta satu set perlengkapan. Yanti mensyaratkan lokasi mini cafe harus strategis dan memiliki fasilitas hotspot. Dengan penjualan minimal 200 cup teh dan 50 cup kopi sehari, si mitra akan mendapat omzet Rp 1,1 juta per hari atau Rp 33 juta perbulan. Setelah dikurangi pengeluaran, gaji dua pegawai, dan sewa tempat sebesar Rp 3,5 juta, marginnya sebesar Rp 12 juta per bulan. Mitra Men United di Medan, Narni, tertarik menjadi mitra karena produk teh yang dijualnya berbeda dengan minuman teh umumnya. Narni bisa meraup omzet Rp 600.000-Rp 800 .000 per hari. "Tergantung cuaca juga, kalau panas, banyak yang beli," ujar Narni yang mengaku balik modal dalam tiga bulan.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News