AEKI: Pasar kopi domestik masih menjanjikan



JAKARTA. Pangsa pasar kopi domestik masih menjanjikan. Penyebabnya adalah penambahan jumlah kafe dan warung kopi di Tanah Air dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini tidak sebanding dengan penurunan produksi kopi yang diprediksi mencapai sekitar 10% hingga 20% pada tahun ini akibat dampak El Nino dan banyaknya pohon kopi yang sudah tua.

Ketua Kompartemen Industri dan Kopi Spesial Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan, potensi pengembangan pasar kopi dalam negeri cukup menjanjikan. Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai kopi jenis Arabika dan Robusta. Karena itu, rata-rata permintan kopi dalam negeri meningkat 8% per tahun. Hal itu terlihat dari peningkatan permintaan kopi dalam negeri yang mencapai rata-rata 1,2 kilogram (kg) hingga 1,3 kg per kapita per tahun.

"Permintaan sekarang ini lebih tinggi dari rata-rata permintaan kopi lima tahun lalu sebesar 0,8 per kg per kapita per tahun," ujar Pranoto kepada KONTAN, Jumat (1/4).


Ia mengatakan untuk meningkatkan produksi dalam negeri, pemerintah telah menyetujui anggaran sebesar Rp 5,9 triliun untuk peningkatan produksi kopi nasional. Hal ini diharapkan dapat mendorong roda perekonomian petani di daerah. Pranoto bilang, anggaran ini akan digelontorkan dari APBN 2016 dan APBN 2017 mendatang.

"Kemungkinan besar dana ini akan digunakan untuk peremajaan pohon kopi yang sudah tua di seluruh Indonesia," beberanya.

Sementara itu, produksi kopi nasional tercatat 685.000 ton per tahun. Produksi ini diprediksi akan turun sebagai dampak El Nino tahun lalu dan banyaknya pohon kopi yang sudah mulai tua. Kendati begitu, Pranoto enggan memprediksi seberapa besar penurunan produksi kopi pada tahun ini.

Sejauh ini, Indonesia masih menjadi negara produsen kopi terbesar ketiga di dunia, setelah Brasil dan Vietnam. Kerjasama AEKI dan pemerintah diharapkan dapat membangkitkan industri kopi dalam negeri sehingga dapat menjadi produsen kopi terbesar kedua di dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini