AFPI Sebut Faktor Ini Jadi Penyebab Pembiayaan Fintech Lending Masih Tumbuh Tinggi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) masih mencatatkan pertumbuhan signifikan hingga Maret 2026.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, outstanding pembiayaan fintech P2P lending mencapai Rp 101,03 triliun per Maret 2026, atau tumbuh 26,25% secara tahunan (year on year/YoY).

Baca Juga: Didorong LAR dan Likuiditas, Biaya kredit Bank Besar Turun di Kuartal I-2026


Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia Entjik Djafar menilai pertumbuhan tersebut didorong tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pembiayaan digital.

“Kebutuhan masyarakat masih sangat besar, terutama dari segmen ultra mikro atau usaha kecil rumahan,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (5/5/2026).

Selain itu, momentum Ramadan dan Lebaran pada Maret 2026 turut menjadi katalis pertumbuhan pembiayaan.

Entjik juga menyebut meningkatnya literasi masyarakat terkait pinjaman online ilegal turut berkontribusi terhadap pertumbuhan industri. Masyarakat mulai beralih ke layanan fintech lending yang berizin.

“Kesadaran untuk menghindari pinjol ilegal meningkat, sehingga masyarakat beralih ke platform yang legal dan diawasi,” jelasnya.

Ke depan, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia memperkirakan pembiayaan fintech lending masih akan tumbuh, seiring tingginya kebutuhan dari segmen unbanked dan underserved.

Baca Juga: Jamkrindo Catatkan Volume Penjaminan Rp 247,57 Triliun Sepanjang 2025

Menurut Entjik, perbankan masih belum optimal menjangkau segmen tersebut, terutama karena keterbatasan infrastruktur.

Sementara itu, dari sisi risiko, Otoritas Jasa Keuangan mencatat tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) industri per Maret 2026 berada di level 4,52%.

Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi Maret 2025 yang sebesar 2,77%. Namun, secara bulanan, TWP90 menunjukkan perbaikan tipis dari posisi Februari 2026 yang sebesar 4,54%.

Secara keseluruhan, kualitas pembiayaan industri masih dinilai terjaga di tengah pertumbuhan yang relatif tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News