AGI Nilai Kondisi Produksi Gula Tahun Ini Masih Menantang, Ini Penghambatnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Gula Indonesia (AGI) mengatakan kondisi produksi gula pada musim giling tahun ini masih menghadapi banyak tantangan.

Direktur Eksekutif  Asosiasi Gula Indonesia, Budi Hidayat, mengatakan, capaian rendemen di sejumlah pabrik gula terpantau belum setinggi tahun sebelumnya.

Meskipun, kondisi tahun ini lebih kering dan secara teoritis dapat mendukung pemasakan tebu serta pembentukan gula.


"Kondisi kering yang terlalu panjang juga dapat menurunkan bobot dan produktivitas tebu apabila ketersediaan air pada masa pertumbuhan tidak mencukupi," jelas Budi kepada Kontan, Kamis (6/8/2026).

Oleh karena itu, kenaikan rendemen disebut belum tentu langsung membuahkan kenaikan produksi apabila tonase tebu yang digiling menurun.

Baca Juga: Perkuat Lini Bisnis B2B, Aman Agrindo (GULA) Akuisisi Pabrik Gula di Sragen

Menurut Budi, produksi akhir akan ditentukan oleh kombinasi luas panen, produktivitas tebu per hektare, rendemen, kelancaran tebang dan angkut, lama hari giling, serta efisiensi pabrik gula.

Walaupun musim giling masih berlangsung dan terlalu dini untuk menilik kondisi final, menurut AGI, perkembangan saat ini menunjukkan peningkatan produksi tak mudah.

"Capaian produksi juga belum merata antarwilayah maupun antarpabrik," imbuh Budi.

Dari sisi kebijakan harga, Budi menyoroti usulan AGI mengenai Harga Acuan Pembelian (HAP) Gula Kristal Putih di tingkat produsen.

Ia menjelaskan, melalui Surat AGI Nomor 111/AGI/VII/2026 tanggal 13 Juli 2026 kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Kepala Badan Pangan Nasional, AGI mengusulkan HAP Gula Kristal Putih sebesar Rp 15.500 per kilogram (kg).

"Usulan tersebut mengacu pada hasil survei dan perhitungan Biaya Pokok Produksi oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian," ungkapnya.

Baca Juga: Pemerintah Bidik Produksi Gula 3 Juta Ton, Ini Harapan AGI

Sementara itu, Budi bilang, petani tebu juga mengusulkan kenaikan harga pokok penjualan (HPP) gula di tingkat petani naik menjadi Rp 16.875 per kg. 

"Angka ini merupakan usulan petani yang perlu dibahas dan diselaraskan dengan struktur biaya usaha tani terbaru, rendemen, pola bagi hasil, kondisi pasar, serta daya beli konsumen," jelas Budi.

Bagaimanapun, secara prinsip, menurutnya kebijakan harga harus memberikan pendapatan yang layak bagi petani, menjaga keberlangsungan pabrik gula, dan tetap wajar bagi konsumen.

"Yang tidak kalah penting adalah memastikan harga acuan tersebut benar-benar terealisasi dalam transaksi dan lelang gula," tuturnya.

AGI juga mendorong sejumlah langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk menjaga keseimbangan harga, kesejahteraan petani, dan keberlangsungan industri.

Menurut Budi, kunci utamanya ialah meningkatkan daya saing industri gula melalui peningkatan produktivitas di kebun dan efisiensi di pabrik.

"Kebijakan harga tetap diperlukan sebagai perlindungan, tetapi harus berjalan bersama dengan upaya menurunkan biaya produksi dan meningkatkan hasil gula per hektare," kata dia.

Baca Juga: APTRI: Target Produksi Gula 3 Juta Ton Sulit Tercapai Tanpa Intensifikasi Lahan

Lebih lanjut, program bongkar ratoon tebu yang dijalankan pemerintah dinilai sudah berada pada arah yang tepat untuk memperbaiki kualitas tanaman dan meningkatkan produktivitas.

Namun demikian, Budi melihat pelaksanaannya perlu diperkuat melalui ketersediaan benih unggul, pupuk, irigasi, pembiayaan, mekanisasi, pendampingan petani, serta penentuan waktu tanam yang sesuai agar hasilnya optimal.

Pemerintah, lanjutnya, juga perlu menetapkan kebijakan harga berdasarkan perhitungan biaya pokok produksi (BPP) yang objektif dan diperbarui secara berkala.

"Pemerintah juga harus menjaga kepastian tata niaga, serta memastikan kebijakan impor tidak dilakukan pada waktu yang dapat mengganggu musim giling dan harga gula petani," lanjutnya.

Budi bilang, pengawasan distribusi gula, khususnya untuk mencegah rembesan gula industri ke pasar konsumsi juga harus diperkuat.

Baca Juga: Program Bongkar Ratoon Dinilai Dongkrak Produksi Tebu dan Pasokan Industri Gula

Sementara di sisi hilir, Budi menegaskan bahwa pemanfaatan tebu dan produk sampingnya untuk bioetanol perlu dipercepat. 

AGI menilai pengembangan bioetanol akan meningkatkan nilai tambah industri, memperluas sumber pendapatan selain gula kristal putih, dan membantu meningkatkan daya tahan usaha petani maupun pabrik gula. 

"Dengan kombinasi peningkatan produktivitas, efisiensi, kepastian tata niaga, serta diversifikasi ke bioetanol, keseimbangan antara kepentingan petani, industri, dan konsumen dapat dijaga secara lebih berkelanjutan," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News