Agresif marketing, pengguna e-money berbasis server bermekaran di penghujung tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis uang elektronik berbasis server semakin menanjak di penghujung tahun. Hal ini tecermin dari semakin bertambahnya pengguna di masing-masing platform.

Hal ini tidak terlepas dari upaya para pemain melakukan pemasaran atau marketing yang masif. Hal ini dilakukan guna mengedukasi pengguna uang tunai agar menggunakan uang elektronik. Salah satu bentuk pemasaran yang dilakukan oleh pemain di industri ini adalah memberikan potongan harga atau cashback.

Baca Juga: P2P lending Alami Fintek Sharia salurkan pinjaman Rp 70 miliar per November


Ambil contoh Sedangkan PT Visionet Internasional atau yang lebih dikenal sebagai OVO mengakui adanya pertumbuhan Monthly Active User dari Mei 2018 ke Agustus 2019 tumbuh 12 kali.

President Director OVO Karaniya Dharmasaputra menyebut hingga saat ini OVO sudah terdapat di 115 juta perangkat. Adapun pengguna OVO sebanyak 87 juta pengguna, sedangkan monthly active user 11 juta hingga 12 juta.

Selain itu, transaksi pun meningkat 28 kali lipat dari Mei 2018 ke Agustus 2019. Adapun total payment value menanjak 19 kali lipat. Sedangkan store value fund atau jumlah dana mengendap naik 7 kali lipat.

Karaniya bilang marketing dibutuhkan oleh pelaku fintech payment dalam mengedukasi masyarakat agar menggunakan produk uang digital. Ia mengambil contoh pelaku e-commerce dan ride hailing awalnya juga melakukan hal yang sama.

Baca Juga: Pengguna LinkAja telah mencapai 40 juta, 52% dari Pulau jawa

Tak mau kalah, PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) sebagai pemegang izin uang elektronik LinkAja gencar melakukan ekspansi ke kawasan tier dua dan tiga di Indonesia. Jelang penutupan akhir tahun 2019, LinkAja mencatat terdapat lebih dari 40 juta pengguna terdaftar.

“Jumlah transaksi tumbuh sebanyak lima kali lipat sejak beroperasi pada bulan Februari 2019. Adapun 82% pengguna LinkAja pun tersebar di luar Jakarta, dengan 52% pengguna berada di luar pulau Jawa seperti kota-kota di Sumatra bagian utara, Sumatra bagian tengah, dan Sulawesi. Tentu saja pertumbuhan pengguna di berbagai wilayah ini merupakan hasil dari peningkatan penyediaan akses keuangan digital yang tersebar di seluruh Indonesia,” ujar Danu Wicaksana, Direktur Utama LinkAja di Jakarta pada Selasa (17/12).

Editor: Tendi Mahadi