Agrinas Palma Siapkan 1 Juta Hektare Lahan, Kembangkan Bahan Baku untuk Bioetanol



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah tengah mempersiapkan implementasi bensin dengan campuran bioetanol sebesar 20% atau E20, yang ditargetkan bisa berjalan pada tahun 2028. PT Agrinas Palma Nusantara (APN) akan terlibat dalam mengembangkan ekosistem bioetanol yang terintegrasi dari hulu-hilir.

Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani menyatakan kesiapan APN untuk menjadi instrumen pendukung dalam upaya percepatan swasembada pangan dan energi, sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2026. APN pun mendapat mandat untuk mengelola lebih dari 4 juta hektare (ha) lahan dari Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).

Dari luasan lahan tersebut, APN akan mengelola 1 juta ha lahan untuk pengembangan bahan baku bioetanol. Ghani menegaskan, pengembangan bahan baku bioetanol oleh APN tidak akan tergantung pada satu komoditas saja. APN bakal mengembangkan bahan baku terdiversifikasi (multi-feedstock) sehingga bisa mengurangi risiko pasokan, musim dan kegagalan produksi. 


APN sudah memetakan potensi dari tiga komoditas, yakni singkong, sorgum dan jagung. Dalam studi awal yang dilakukan oleh APN, bahan baku bioetanol dari ketiga komoditas tersebut memiliki tingkat pengembalian atau Internal Rate of Return (IRR) di atas 15%, sehingga secara investasi memiliki tingkat keekonomian yang menarik.

"Kami memetakan 1 juta hektare, khusus dedicated untuk bioetanol, dan sudah melakukan studi awal. Dari analisis kami secara bisnis, investasi, tiga komoditas itu sangat layak, jadi kami akan fokus ke situ," kata Ghani dalam pertemuan yang berlangsung pada Kamis (8/10/2026).

Studi APN memetakan bahwa singkong menjadi komoditas paling potensial untuk bahan baku bioetanol selain tebu. Singkong dinilai paling potensial sebagai feedstock utama karena produktivitas etanol relatif tinggi, kompetisi dengan pangan lebih rendah, dan cukup adaptif terhadap berbagai kondisi lahan.

Sementara itu, komoditas sorgum strategis sebagai feedstock  diversifikasi karena siklus tanam  pendek, toleran terhadap kekeringan, dan cocok dikembangkan pada lahan marginal. Sedangkan jagung memiliki supply chain paling matang, tetapi penggunaannya perlu  dibatasi karena kompetisinya tinggi dengan kebutuhan pangan dan pakan.

APN mengestimasikan pengelolaan 1 juta ha lahan sebagai multi-feedstock tersebut bisa menghasilkan hingga 5 juta kiloliter bioetanol per tahun. Ghani mengatakan, APN telah meneken nota kesepahaman dengan PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan ekosistem bioetanol secara end-to-end.

Tak hanya dengan Pertamina, Ghani menyebut bahwa sejumlah perusahaan swasta dari dalam dan luar negeri juga tertarik untuk menjalin kerja sama pengembangan proyek ini. "Kami tentu akan izin dengan pemegang saham agar bukan hanya Pertamina, tapi semua entitas yang ingin berkontribusi untuk (program bioetanol) ini bisa dibolehkan untuk kerja sama dengan kami," kata Ghani.

APN telah memetakan sejumlah lahan di Kalimantan dan Sumatera, yang selanjutnya akan melakukan uji coba (piloting) untuk memastikan kecocokan tanah dengan komoditas dan varietas yang akan dikembangkan pada lahan tersebut. "Kami harus melakukan piloting, analisis dulu, tanahnya bagaimana? cocoknya ditanam apa? varietas apa? itu harus dihitung keekonomiannya," ujar Ghani.

Dalam hitungan awal APN, pengembangan 1 juta ha lahan untuk bioetanol berpotensi menarik investasi sekitar Rp 142 triliun dan penghematan devisa sekitar Rp 93,6 triliun. Proyek ini juga berpotensi membuka sekitar 1,1 juta lapangan kerja yang terdiri dari 500.000 tenaga kerja langsung dan 600.000 tenaga kerja tidak langsung, dengan perputaran upah langsung sekitar Rp 27 triliun.

Dengan tingkat keekonomian yang menarik dari sisi investasi, Ghani meyakini pengembangan proyek bioetanol ini tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Cukup kemudahan perizinan, mungkin tidak perlu pakai APBN. Tetap setelah itu, (pengembangan bioetanol) ini akan menciptakan lapangan kerja 1 juta orang, bisa kerja di situ dan akan jadi pusat-pusat pertumbuhan di daerah," tandas Ghani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News