Agung kian berkibar setelah tawarkan waralaba (3)



Melihat banyak orang Indonesia yang ingin menginvestasikan uangnya tapi bingung mau bisnis apa, akhirnya Agung menawarkan waralaba usaha laundry-nya. Baginya sistem kemitraan merupakan solusi terbaik. Hasilnya, kini outlet Simply Fresh Laundry sudah mencapai 165 gerai, dan siap merangsek ke pasar Filipina.Ketika teman-temannya yang lain mengisi waktu luang dengan kegiatan-kegiatan ringan, Agung Nugroho Susanto malah bekerja. Banyak kawannya yang bertanya-tanya, kenapa ia mau bersusah payah untuk menjadi seorang wirausahawan mengingat secara ekonomi orang tua Agung berkecukupan. "Justru saya menggunakan fasilitas yang ada dari orang tua untuk mendukung bisnis, sehingga nantinya saya bisa segera mandiri," ujar dia.Agung memakai mobil pemberian orang tuanya untuk antar jemput pakaian pelanggan. Ia rela melakukan itu dari satu kos ke kos lain. Tapi, sejak berbisnis laundry, ia tidak pernah meminta uang dari orang tuanya lagi, kecuali untuk modal awal usaha.Namun, keinginan Agung untuk menjadi wirausahawan bukannya tanpa hambatan. Begitu lulus dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), kedua orang tuanya sempat mendesak ia melamar di salah satu bank nasional terkemuka.Agung pun mengikuti keinginan orang tuanya tersebut. Tapi, ketika sudah mencapai tahap akhir tes masuk, timbul kebimbangan di hatinya antara meneruskan ujian akhir yang kemungkinan lolosnya cukup besar atau melanjutkan impian menjadi seorang pengusaha.Akhirnya, ia memilih yang kedua. Untuk meyakinkan orang tuanya yang kecewa, Agung meminta waktu satu tahun untuk mengembangkan bisnis laundry-nya. Jika gagal, dia rela bekerja di mana pun sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya.Dengan bermodalkan kerja keras, dalam waktu setahun, outlet Simply Fresh Laundry berkembang menjadi 30 gerai. "Akhirnya, orang tua pun mendukung penuh bisnis laundry yang saya jalankan ini," ungkap Agung.Ia pun semakin bersemangat menjalankan usahanya. Berbekal ilmu bisnis dan keuangan yang dipelajari secara otodidak, Agung mewaralabakan bisnisnya. "Saya lihat banyak orang Indonesia yang ingin menginvestasikan uangnya, tapi bingung mau bisnis apa dan tak berani mengambil risiko," kata finalis Wirausaha Muda Mandiri 2009 ini. Agung mengatakan, sistem waralaba menjadi solusi terbaik. Ia pun menawarkan tiga paket investasi, mulai dari Rp 85 juta, Rp 104 juta, sampai Rp 145 juta, dengan biaya royalti 8% dari omzet setiap bulan pemegang merek Simply Fresh.Gerai waralaba pertama berdiri di Depok, Bintaro, Timika (Papua), dan Banda Aceh. Hingga 2009, usaha binatu itu sudah berkembang mencapai 105 gerai dan 200 agen Simply Fresh. Agen merupakan anak gerai yang berfungsi sebagai pengumpul cucian kotor dan bersih. Pelanggan Simply Fresh meluas ke perusahaan, hotel, spa, hingga rumah sakit.Memasuki tahun 2010, Simply Fresh bersiap masuk ke pasar Filipina. Melalui pameran waralaba terbesar di negara itu, 18th Philippine International Franchise Conference & Expo (PIFCE), Agung membuka stand Simply Fresh Laundry. Agung menilai, karakter penduduk Filipina memiliki kemiripan dengan Indonesia, menyukai jasa layanan cuci baju kiloan. "Jadi, banyak calon master franchise yang tertarik dengan konsep bisnis Simply Fresh karena sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Filipina," ujarnya.Tak puas dengan usaha laundry, Agung mulai merambah bisnis lain, yakni guest house atau mini hotel dengan bendera Simply Homy Guest House. Saat ini, sudah ada tiga unit yang siap beroperasi dan enam lainnya dalam tahap final renovasi gedung di Yogyakarta.Menurut Agung, kunci suksesnya selama ini karena dia memegang teguh moto 3K: Kerja Keras, Kerja Cerdas, dan Kerja Ikhlas. Ibarat mengerjakan pekerjaan berat, butuh tenaga yang ekstra. Namun, akan lebih mudah kalau menggunakan alat bantu. Tetapi, seringan apa pun pekerjaan kalau tidak dilaksanakan dengan ikhlas, maka tetap saja pekerjaan itu akan berat.Hanya, Agung menambahkan, di Indonesia tidak mudah menjadi pengusaha. Kendalanya banyak, mulai dari susah mendapat modal hingga perizinan yang berbelit-belit. "Pemerintah belum mendukung wirausahawan secara optimal, apalagi masih banyak birokrat yang korup," ungkap dia. (Selesai)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi