Agustus, ekspor kakao loyo



JAKARTA. Ekspor kakao dari Sulawesi, kawasan utama penghasil kakao Indonesia, anjlok untuk yang pertama kalinya dalam empat bulan. Curah hujan yang tinggi telah menggerus panenan kakao dan mengganggu pengiriman. Pengiriman kakao dari Sulawesi tengah maupun selatan anjlok 21% menjadi 36.168 ton pada bulan Agustus 2010 lalu. Padahal, pada bulan Juli 2010, ekspor kakao sempat menembus 45.552 ton. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ekspor kakao pada bulan Agustus 2009 mencapai 47.527 ton. Asal tahu saja, 75% produksi kakao dan ekspor kakao Indonesia dihasilkan dari Sulawesi. Anjloknya produksi kakao dari Indonesia, ditambah lagi dari Pantai Gading dan Ghana, kemungkinan akan memandekkan kemerosotan harga kakao tahun ini yang sudah mencapai 16%. Untuk catatan, penurunan produksi ini masih berkaitan dengan fenomena La Nina. BMKG memprediksi,curah hujan di Sumatra, Kalimantan dan sebagian wilayah Sulawesi maupun jawa akan meningkat hingga bulan September. "Curah hujan yang tinggi adalah masalah utama kami. Hujan itu tidak hanya merusak panenan, tetapi juga mengganggu distribusi dari area penanaman kakao," kata Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Herman Agan. Menurut Herman, selain karena produksi menyusut, ekspor bulan Agustus mengkerut karena adanya bulan puasa. Ekspor biji kakao per Agustus 2010 lalu sudah naik 9% menjadi 191.619 ton dari periode yang sama tahun lalu yang hanya menembus 176.312 ton. Indonesia memanen kakao biasanya ada di bulan April hingga Juli. "Ekspor kakao kemungkinan meningkat lagi bulan ini; disokong oleh pengiriman yang besar ke AS dan Brazil sekitar 10.000 ton," kata Herman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: