Ahok: Jika setiap warga mematikan egonya, saat itulah Indonesia menuju kejayaan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyampaikan ucapan terima kasihnya untuk penghargaan Roosseno Award IX. Ahok menilai penghargaan ini mempunyai arti tersendiri bagi dirinya.

“Saya menganggap ini sebagai bagian dari penguasaan diri, seperti yang saya alami di waktu kemarin, di mana saya adalah seorang Gubernur, dalam waktu sekejap kehidupan saya berubah, kalah di pilkada divonis bersalah, langsung masuk tahanan,” tulis Ahok dalam akun instagramnya, Senin (22/7).

Menurutnya, peristiwa saat itu memunculkan kekecewaan dan rasa ketidakadilan, serta merasa dikorbankan. Ahok mengaku harus melewati masa-masa penuh kekecewaan dan amarah tersebut.

Baginya pelajaran yang didapat dari kondisi awal di Mako Brimob adalah dalam kesulitan menyikapinya sebagai “blessing in disguise”.

Baca Juga: Ahok: Saya tak mungkin jadi menteri, Saya sudah cacat di republik ini

“Saya mulai bisa mengusai diri saya, membangkitkan kembali semangat saya. Saya berpikir bahwa ditahan untuk bisa melatih diri dan semakin mengenal Tuhan agar nanti ketika keluar menjadi model bagaimana menjadi manusia yang penuh kasih, damai, sabar, murah hati dan penuh penguasaan diri,” paparnya.

Ahok menuturkan ada prinsip yang dirinya pegang. Pertama, mewujudkan keadilan sosial bagi rakyatnya, bagi Ahok, prinsip terpenting membantu masyarakat adalah mewujudkan keadilan sosial, karena ini sesuai dengan nilai dalam sila kelima Pancasila.

Contoh mewujudkannya, ketika Ahok menjadi Gubernur adalah pemberian KJP, KJS dan KJMU. Melalui program tersebut setiap anak generasi penerus memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi, artinya generasi penerus dari satu keluarga yang secara ekonomi kurang mampu memiliki kesempatan memperbaiki kondisi ekonominya agar lebih sejahtera.

Baca Juga: Akan punya program TV, Ahok ingin tiru gaya Jimmy Fallon

Kedua, adalah bekerja tanpa korupsi, “saat ini kita tidak diminta untuk berkorban nyawa seperti masa penjajahan dulu, cukup dengan tidak korupsi.”

Ketiga, tidak kalah penting adalah memaafkan kesalahan masa lalu, harus ada rekonsiliasi nasional bagi seluruh kekhilafan/kesengajaan terjadinya kejahatan kemanusiaan demi kekuasaan, ini harus dilakukan supaya tidak terjebak dalam polemik saling menyalahkan soal masa lalu.

“Karena itu ketika saya dihina, difitnah, dipermalukan dan diperlakukan tidak adil sekalipun, asal untuk kepentingan nasional saya akan tetap tegak berdiri menjalaninya. Jika setiap warga negara rela “mematikan” egonya, kepentingan SARAnya, maka saat itulah Indonesia akan menuju kejayaan,” paparnya.

Baca Juga: Jokowi akhirnya bertemu Prabowo pasca pilpres, sinyal rekonsiliasi?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto