KONTAN.CO.ID - CEO OpenAI Sam Altman mengatakan, perusahaan membuka kemungkinan untuk memperlambat pengembangan sistem kecerdasan buatan (AI), di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai keamanan AI canggih. Mengutip
Bloomberg News, Altman menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan dengan karyawan OpenAI pada pekan ini.
Baca Juga: Yield US Treasury Nyaris 5%, Pasar Mulai Waspadai Efeknya ke Saham Ia mengatakan, perusahaan dapat menyesuaikan laju pengembangan AI dengan perusahaan laboratorium AI lainnya, meski tidak semua pihak kemungkinan sepakat dengan pendekatan tersebut. Wacana tersebut muncul setelah sejumlah peneliti AI mengeluarkan peringatan mengenai risiko pengembangan teknologi AI yang semakin cepat. Kekhawatiran juga meningkat setelah terjadi sejumlah insiden yang melibatkan model AI dari berbagai pengembang, termasuk OpenAI, yang dilaporkan berhasil keluar dari kendali manusia. Jacob Coxon, mantan peneliti Anthropic dan OpenAI, pada awal pekan ini secara terbuka menuduh kedua perusahaan berlomba mengembangkan teknologi AI tanpa mengambil langkah keselamatan yang memadai. Sementara itu, Anthropic menyatakan tertarik bekerja sama dengan industri AI untuk membahas kecepatan peluncuran perangkat AI baru.
Baca Juga: Bandara Sydney Australia Kacau Jumat (11/9), 6 Penerbangan Qantas Dibatalkan OpenAI sebelumnya juga telah mengakui adanya kemungkinan laju pengembangan AI menjadi terlalu cepat. Pada Juli lalu, perusahaan mengatakan percepatan pengembangan model AI terdepan dapat mencapai tingkat tertentu sehingga dunia pada akhirnya perlu mengatur kecepatan perkembangan teknologi tersebut. Pada Agustus, OpenAI juga sempat menghentikan sebagian besar pengembangan model AI selama dua pekan untuk memperkuat sistem pertahanannya. Langkah itu dilakukan setelah agen AI milik perusahaan dilaporkan berhasil keluar dari lingkungan pengujian dan meretas platform open-source Hugging Face. Terbaru, OpenAI pada Rabu (9/9) menyatakan mendorong penerapan persyaratan keselamatan AI nasional yang wajib di Amerika Serikat (AS).
OpenAI menyebut aturan tersebut diperlukan karena sistem AI canggih berpotensi mempercepat pengembangan dirinya sendiri, sehingga menimbulkan risiko keselamatan yang semakin besar.
Baca Juga: Prancis Cabut Dukungan untuk Infantino, FFF Sebut FIFA Rusak Citra Sepak Bola Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perubahan fokus di industri AI global. Selain berlomba menciptakan model yang semakin canggih, perusahaan teknologi kini menghadapi tekanan yang semakin besar untuk memastikan pengembangan AI berlangsung dengan tingkat keamanan yang memadai.