KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan industri kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI) membuka peluang bisnis dan lapangan kerja baru. Namun, di tengah potensi peningkatan produktivitas, pemanfaatan teknologi ini juga menghadirkan tantangan bagi tenaga kerja, terutama lulusan baru dan pekerja di level pemula. Asisten Profesor Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (UI) Defny Holidin mengatakan, pekerjaan yang mulai tergantikan oleh AI berpotensi diikuti kemunculan lapangan kerja dan peluang bisnis baru yang memanfaatkan teknologi tersebut.
Baca Juga: PGEO Genjot Pengembangan Panas Bumi, Intensifkan Pengeboran Sumur 3 Wilayah Operasi “Berdasarkan studi di beberapa negara, saya menangkap bahwa memang ada sejumlah pekerjaan yang tergerus kemampuan AI, tapi lapangan yang tersedia dan peluang bisnis penggantinya yang AI-augmented justru lebih banyak. Di USA, angka rasionya bisa berbanding 1:10,” ujar Defny kepada Kontan.co.id, Selasa (6/10/2026). Meski demikian, dampak AI terhadap produktivitas dan penyerapan tenaga kerja tidak seragam. Menurut Defny, pengaruhnya bergantung pada jenis pekerjaan, jenjang posisi, serta latar belakang pendidikan dan pelatihan pekerja. Dari sisi jenis pekerjaan, Defny membedakan pekerjaan berbasis pengetahuan atau knowledge intensive dengan pekerjaan yang mengandalkan aktivitas fisik atau labor intensive. Pekerjaan berbasis pengetahuan relatif lebih rentan terdampak karena sebagian tugasnya sudah dapat dikerjakan oleh AI. Namun, teknologi yang sama juga dapat meningkatkan kapasitas pekerja sekaligus menciptakan kebutuhan baru bagi bisnis yang mengintegrasikan AI ke dalam proses operasionalnya.
Baca Juga: Pakar M&A Ingatkan Investor Tak Hanya Andalkan Valuasi Saat Akuisisi Sementara itu, pekerjaan yang mengandalkan aktivitas fisik dinilai masih relatif lebih sulit digantikan AI, terutama jika teknologi tersebut belum terintegrasi secara menyeluruh dengan robotika. “Ini hanya soal waktu, tetapi saat ini pendidikan vokasi masih memiliki prospek yang menjanjikan jika pelatihan atau pendidikannya berkualitas tinggi,” ungkapnya. Dari sisi jenjang karier, pekerja level menengah hingga senior dinilai lebih berpeluang memetik manfaat dari penggunaan AI. Mereka umumnya memiliki pemahaman bisnis, kompetensi, serta metaknowledge atau wawasan yang lebih luas untuk mengarahkan pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan pekerjaan. Sebaliknya, lulusan baru atau
fresh graduate dan pekerja
entry level menghadapi risiko lebih besar. Pasalnya, sejumlah tugas yang selama ini menjadi pintu masuk bagi pekerja pemula ke dunia kerja mulai dapat dilakukan oleh AI. “Adapun
fresh graduate dan
entry level workers justru dirugikan karena AI capability justru sudah bisa menggantikan posisi mereka,” ujar Defny.
Baca Juga: Agrinas Palma Siapkan 1 Juta Hektare Lahan, Kembangkan Bahan Baku untuk Bioetanol Selain pengalaman kerja, latar belakang pendidikan dan pelatihan turut menentukan kemampuan pekerja dalam memanfaatkan AI. Defny menilai, pekerja yang memperoleh pendidikan dan pelatihan sebelum era AI cenderung memiliki kemampuan metakognisi, pengetahuan, dan wawasan yang lebih terasah tanpa bergantung pada teknologi tersebut. Di sisi lain, ketergantungan berlebihan pada AI menjadi tantangan bagi sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja. Penggunaan teknologi tanpa diimbangi pengembangan kemampuan berpikir mandiri berisiko mendorong cognitive surrender, yakni kecenderungan menyerahkan proses berpikir kepada AI. “Pendidikan dan training beroleh peluang besar mengalami arah yang misleading dalam pembangunan manusia karena peserta didik cenderung mengalami
cognitive surrender akibat kebergantungan pada AI
capability,” jelasnya.
Dengan demikian, pertumbuhan industri AI tidak hanya mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis, tetapi juga kebutuhan kompetensi tenaga kerja. Di tengah terbukanya peluang bisnis dan pekerjaan baru, kualitas pendidikan, pelatihan vokasi, serta kemampuan menggunakan AI tanpa kehilangan daya pikir kritis menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan pasar kerja.
Baca Juga: Menperin Sarmuji Bidik Industri Hijau Jadi Sumber Ekonomi Baru Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News