KONTAN.CO.ID - SORONG. Di halaman sebuah rumah berdinding kayu, anak-anak bermain air di sekitar kran dengan memanfaatkan baskom plastik sebagai penampung air bersih di Distrik Klasafet, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Fasilitas air bersih yang dibangun PT Pertamina EP Papua Field ini memberikan akses air layak, sekaligus menghadirkan keceriaan bagi warga, khususnya anak-anak. Melalui Program Peningkatan Sarana Air Bersih Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (Peri Berdaya), Pertamina menciptakan inovasi water treatment portable yang mengubah air sungai menjadi air layak bagi 200 Kepala Keluarga (KK) di tiga kampung di Distrik Klasafet, yakni Maladuk, Klamono Oil, dan Baros.
Baca Juga: Pertamina EP Papua Field Sukses Garap Sumur SLW-F2X, Produksi Awal Capai 623 BOPD Distrik Klasafet merupakan hasil pemekaran dari Distrik Klamono yang mencakup area seluas sekitar 246,45 kilometer persegi. Adapun Klamono menjadi lokasi lapangan produksi minyak bersejarah dan utama yang dikelola oleh Pertamina EP Papua Field. Sejatinya, air dari Sungai Klasafet diolah dan didistribusikan lewat saluran pipa ke pemukiman warga. "Kami sangat terbantu dengan fasilitas air bersih ini," tutur Mama Tesa, warga Kampung Maladuk saat berbincang dengan KONTAN, Selasa (28/7). Sebelum hadirnya program tanggung jawab sosial dari Pertamina, penduduk menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih. Mereka mengandalkan aliran sungai yang keruh lalu diendapkan sebelum digunakan untuk keperluan sehari-hari. "Kalau musim hujan, kami menampung air tadah hujan. Saat musim kemarau, kami terpaksa ambil air sungai yang sebenarnya tidak layak. Sekarang, kami tidak kesulitan air bersih lagi," beber Mama Tesa.
Baca Juga: Kelola 22 Lapangan Migas, Produksi Pertamina EP Capai 205.000 Boepd Sepanjang 2025 Kepala Distrik Klasafet, Femy Momot bercerita, sebelum program tersebut berjalan masyarakat hanya mengandalkan air hujan dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurut Femy, pada tahun 2021, pernah ada program penyediaan air bersih melalui Pamsimas. Hanya saja, fasilitas tersebut tidak berfungsi optimal sehingga warga masih kesulitan mendapatkan air bersih. “Awalnya, masyarakat Distrik Klasafet menggunakan air tadah hujan. Kami tidak punya fasilitas air bersih. Tahun 2021 sempat dibantu melalui program Pamsimas, tetapi tidak maksimal, sehingga masyarakat tidak menikmati air itu,” sebutnya. Kondisi tersebut mendorong pemerintah distrik menyampaikan langsung aspirasi masyarakat kepada PT Pertamina EP Papua Field. “Saya berinisiatif datang ke Pertamina menyampaikan aspirasi masyarakat karena kami tidak punya air bersih. Alhamdulillah, direspon dengan baik. Kami mulai bergerak sejak 2021 hingga sekarang terus mengalami peningkatan,” ujarnya.
Baca Juga: Pertamina EP Zona 4 Bidik Produksi Minyak 30.305 BOPD pada 2026, Ini Strateginya Femy bilang, keberhasilan program tidak lepas dari pembagian peran antara perusahaan dan pemerintah kampung. Pertamina menyediakan sistem pengolahan air bersih, sementara pemerintah kampung mengalokasikan dana desa untuk pembangunan jaringan distribusi. Meski demikian, Femy mengakui tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga jaringan distribusi air. Selain itu, perluasan akses air bersih agar lebih banyak menjangkau warga di kampung sekitarnya. “Kendalanya sekarang masih soal kesadaran merawat jaringan pipa. Ada yang saat membersihkan lahan pipanya terbakar sehingga bocor. Kadang kami harus menunggu perbaikan sampai satu bulan. Selama itu masyarakat kembali menggunakan air hujan dan air sungai,” ujarnya. Community Development Officer Pertamina EP Papua Field, M Ishlah Ramadhan, mengungkapkan, peningkatan kapasitas fasilitas dilakukan seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat terhadap air bersih. “Program peningkatan sarana air bersih berbasis pemberdayaan masyarakat ini mulai kita inisiasi pada 2022, setelah sebelumnya pada 2021 masih dalam skala kecil," jelasnya.
Baca Juga: Deteksi Metering Gas Pertamina EP, Teknologi Qord Tech Bisa Hemat Rp 1,4 Miliar Pada 2022 mulai dilakukan pembangunan fasilitas yang lebih besar, baik bak sedimentasi maupun reservoir. Melalui redesain sistem pengolahan air, Pertamina memanfaatkan tangki bekas aset perusahaan menjadi WTP portabel yang mampu meningkatkan efektivitas proses pemisahan lumpur dari air baku. Kini, fasilitas tersebut memiliki reservoir berkapasitas 64.000 liter dengan kemampuan mengolah air hingga 32.000 liter dan masih dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan biosand water filter komunal berbahan fiberglass reinforced plastic (FRP) berdiameter 10 inci dengan panjang 1,25 meter untuk meningkatkan kualitas penyaringan air sebelum didistribusikan kepada masyarakat. Menurut Ishlah, peningkatan fasilitas ini masih memungkinkan layanan, sehingga dari yang semula hanya menjangkau satu kampung kini berkembang menjadi tiga kampung dan direncanakan melayani empat kampung. “Awalnya memang dimanfaatkan untuk satu kampung, Kampung Maladuk. Seiring berjalan waktu, kapasitas reservoir sebesar 64 ton membuat air sudah bisa disalurkan maksimal ke empat kampung. Saat ini yang berjalan baru tiga kampung,” katanya.
Baca Juga: Produksi Minyak Pertamina EP Zona 4 Tembus 27.642 Bopd pada 2025 Selain penggantian media filter, Ishlah menambhkan, kendala lain masih ditemukan pada jaringan distribusi akibat kerusakan pipa maupun jarak antarkampung yang cukup jauh. Alhsil, memengaruhi debit air yang diterima masyarakat. Sebagai operator hulu minyak dan gas bumi di Kabupaten Sorong, PT Pertamina EP Papua Field menjadikan inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari program pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasi. Melalui inovasi WTP portabel dan biosand water filter, perusahaan tidak hanya mempercepat proses pengolahan air bersih, tetapi juga memperluas akses layanan bagi masyarakat yang selama bertahun-tahun bergantung pada air hujan dan air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News