AirAsia Dikabarkan Berdiskusi dengan Pemerintah Malaysia Terkait Dukungan Pendanaan



KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Salah satu pendiri AirAsia, Tony Fernandes, dikabarkan bertemu dengan pejabat dari Kementerian Keuangan Malaysia dua minggu lalu untuk membahas potensi dukungan pemerintah bagi maskapai penerbangan berbiaya hemat terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Mengutip Reuters, Senin (12/10/2026), menurut tiga orang yang mengetahui masalah ini, pembicaraan tersebut mencerminkan kekhawatiran pemerintah yang kian meningkat mengenai kesehatan keuangan maskapai penerbangan domestik terbesar di negara itu menyusul lonjakan harga bahan bakar pesawat.

Diskusi berpusat pada prospek dukungan pemerintah terhadap upaya penggalangan dana AirAsia, dengan syarat maskapai tersebut menyetujui ketentuan yang diusulkan—yang saat ini masih dalam pembahasan—kata dua dari sumber tersebut.


Baca Juga: Amazon Dikabarkan Incar Startup AI Decart Senilai US$ 7 Miliar  

Reuters tidak dapat segera mengetahui rincian mengenai ketentuan yang diusulkan itu.

Fernandes, yang berbicara mewakili maskapai tersebut selaku salah satu pendiri dan penasihat, mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara eksklusif pada hari Jumat bahwa ia telah bertemu dengan pejabat dari kementerian keuangan dan transportasi Malaysia pada minggu yang dimulai tanggal 28 September atas permintaannya sendiri.

Ia mengatakan diskusi tersebut berfokus pada biaya-biaya terkait penerbangan seperti biaya bandara dan bahan bakar, bukan bantuan keuangan.

"Tentu saja, seperti halnya setiap maskapai penerbangan di dunia, kami menyampaikan kepada pemerintah bahwa ini adalah masa yang sulit," ujarnya.

"Tidak ada diskusi mengenai bantuan keuangan dengan pemerintah," tambah Fernandes.  "Saya sering bertemu dengan pejabat pemerintah... hanya karena saya bertemu dengan mereka, bukan berarti kami sedang membicarakan bantuan keuangan." 

Ia mengatakan bahwa ia tidak meminta bantuan kepada pemerintah, dan pemerintah pun tidak menyampaikan kekhawatiran kepadanya mengenai pendanaan AirAsia ataupun menawarkan dukungan.

Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Sejumlah Rudal Balistik, Ketegangan dengan Seoul Meningkat

Fernandes menyatakan keyakinan "100%" bahwa AirAsia mampu mengatasi situasi ini tanpa bantuan negara, sebagaimana yang telah dilakukannya selama masa pandemi.

Namun, Fernandes mengatakan bahwa AirAsia tidak akan menolak bantuan jika ditawarkan oleh pemerintah di negara-negara tempat maskapai itu beroperasi, termasuk Malaysia, Thailand, dan Indonesia. 

"Kami tidak akan pernah menolaknya. Sungguh bodoh jika kami melakukan hal itu," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sebelumnya ia telah meminta pemerintah untuk membantu maskapai tersebut mendapatkan pinjaman dari bank-bank Malaysia alih-alih meminjam dari luar negeri, dan ia masih mengharapkan dukungan semacam itu karena lebih memilih pinjaman dalam mata uang lokal dengan suku bunga serta persyaratan yang lebih baik.

Perwakilan dari Alton Aviation Consultancy—perusahaan yang menurut laporan Reuters sebelumnya telah ditunjuk oleh Kementerian Keuangan untuk mengkaji kebutuhan pendanaan AirAsia yang sedang merugi—juga turut hadir dalam pertemuan tersebut, menurut dua orang yang mengetahui jalannya diskusi.

Kementerian Keuangan Malaysia menolak berkomentar. Kementerian Perhubungan dan Alton tidak menanggapi permintaan komentar.

Maskapai ini terdampak oleh lonjakan biaya bahan bakar pesawat yang naik 66% pada kuartal kedua dibandingkan kuartal sebelumnya, mencapai rata-rata US$ 183 per barel, akibat konflik antara AS-Israel dan Iran.

Pertemuan tersebut menyusul laporan Reuters bulan lalu yang menyebutkan bahwa pemerintah Malaysia telah menanyakan kepada Malaysia Airlines dan Batik Air apakah mereka sanggup mengambil alih pangsa pasar domestik AirAsia sebagai bagian dari perencanaan skenario, sementara pihak berwenang memantau kondisi keuangan maskapai tersebut. 

Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Energi Antara Ukraina dengan Rusia Keesokan harinya, saham AirAsia sempat anjlok hingga 21% ke level terendah dalam hampir empat tahun terakhir.

Pemerintah semakin khawatir mengenai kondisi keuangan AirAsia karena dampak berantai yang mungkin timbul akibat kesulitan keuangan maskapai tersebut terhadap konektivitas udara, pariwisata, dan bisnis terkait—seperti operator bandara yang terafiliasi dengan negara, Malaysia Airports Holdings Berhad—ungkap dua orang sumber tersebut.

Menurut Fernandes, AirAsia menguasai sekitar 60% pasar penerbangan domestik Malaysia dan mempekerjakan 26.000 orang. Maskapai tersebut memiliki kas dan saldo bank sebesar 954 juta ringgit (US$ 233,65 juta) serta liabilitas lancar sebesar 18,4 miliar ringgit per 30 Juni.

Pertemuan Internal

Pertemuan dengan pejabat pemerintah tersebut menyusul pertemuan internal perusahaan yang diadakan Fernandes pada 28 September di kantor pusat AirAsia; dalam pertemuan itu, ia menyampaikan kepada staf bahwa maskapai akan mampu mengatasi kesulitan saat ini, menurut keterangan dua orang sumber.

Fernandes mengatakan bahwa ia telah menyampaikan kepada karyawan bahwa masa ini merupakan masa yang sulit bagi semua maskapai penerbangan.  "Kita pernah melewati banyak masa sulit sebelumnya. Kita akan bangkit dengan lebih kuat," kenangnya saat menceritakan kembali ucapannya. 

"Perbedaan besar antara situasi ini dan COVID adalah kita sebenarnya masih bisa terbang."

Dalam konferensi pers pada 18 September, ia menyatakan bahwa belum ada pembicaraan dengan pemerintah, maskapai memiliki "likuiditas yang kuat", dan "kami tidak membutuhkan penyelamatan, dana talangan, atau apa pun itu."

AirAsia melaporkan mencatatkan kerugian bersih sebesar 831 juta ringgit (US$ 204 juta) untuk kuartal kedua yang berakhir pada 30 Juni, akibat tingginya biaya bahan bakar pesawat dan kerugian selisih kurs sebesar 331 juta ringgit.

Baca Juga: Selamatkan AirAsia, Malaysia Jajaki Pembicaraan Dengan Malaysia Airlines & Batik Air

Maskapai tersebut menyatakan sedang mengincar dana hingga US$ 1 miliar dari pasar utang internasional serta fasilitas kredit lokal sebesar 700 juta ringgit, terutama untuk membiayai kembali utang yang ada. Nilai sahamnya telah turun lebih dari 70% sepanjang tahun ini.

Pada hari Jumat, Fernandes mengatakan ia memperkirakan penggalangan dana sebesar US$1 miliar tersebut akan rampung antara bulan Desember dan Februari; separuh dana akan digunakan untuk membiayai kembali pinjaman berbunga tinggi, sementara sisanya untuk modal kerja dan pelunasan kewajiban yang diperpanjang (extended liabilities).

Fernandes menyebutkan bahwa AirAsia telah menyusun anggaran dengan asumsi harga minyak tetap tinggi selama 12 bulan ke depan dan belum melihat adanya penurunan permintaan; tingkat keterisian kursi tetap di atas 80% meskipun harga bahan bakar pesawat sempat melonjak hingga US$200 per barel.

"Situasi di atas US$ 200 belum pernah teruji," ujarnya. 

"Pada titik tertentu, hal itu akan memicu penurunan permintaan secara drastis (demand destruction). Saya tidak yakin di titik mana hal itu akan terjadi."

(US$1 = 4,0830 ringgit)