AirAsia percaya diri bersaing dengan aplikasi super travel besar di Indonesia



KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. AirAsia Group bersiap merevolusi perusahaan. Maskapai penerbangan yang bermarkas di Kuala Lumpur, Malaysia ini fokus menjadi perusahaan teknologi yang tak hanya berkecimpung pada bisnis perjalanan (travel), tetapi juga bisnis teknologi finansial (fintech) dengan mengusung konsep AirAsia 3.0.

Head of Data Science and Insights AirAsia Group Sadesh Manikam, menyatakan, siap bersaing dengan pemain besar perusahaan teknologi, terutama di Indonesia.

“Kami memiliki sumber daya manusia terbaik dari berbagai industri terkait untuk menuju AirAsia 3.0. Kami juga berhubungan dekat dengan perusahaan-perusahaan teknologi lain yang sudah lebih besar, seperti Google dan Grab,” ujar Sadesh dalam bincang-bincang media di kantor pusat AirAsia RedQ, Jumat (12/7).  


Baca Juga: Ide dari repot memerah ASI, kini Stephanie Tunggal raup ratusan juta sebulan

Selain itu, AirAsia percaya diri lantaran telah mengantongi tak kurang dari 500 juta data penumpang yang bisa diolah untuk kebutuhan personalisasi layanan pada aplikasi AirAsia nantinya. Sadesh mengatakan, selama ini perusahaan teknologi menggelontorkan investasi besar-besaran untuk memperoleh data pelanggan.

“Tapi kami sudah menerbangkan lebih dari setengah juta penumpang dan punya banyak sekali data. Tentunya data akan kami gunakan sesuai consent pelanggan,” lanjut dia. 

Head of Communications AirAsia Group Audrey Progastama Petriny menambahkan, AirAsia juga optimistis mampu diterima pasar secara luas sebagai perusahaan teknologi lantaran telah memiliki nama besar dan reputasi. Bahkan, kekuatan merek AirAsia menyebar di negara-negara Asean. 

Baca Juga: Batal Diakuisisi Grup Medco dan Salim, Hyflux Dilirik Investor dari Uni Emirat Arab

Kendati begitu, Sadesh mengakui tak mudah untuk mentransformasi perusahaan secara cepat. Pasalnya, perusahaan yang menempatkan pusat teknologi di Bangalore, India ini memiliki banyak lini bisnis yang memiliki model berbeda-beda pula. 

“Tantangan utamanya adalah menciptakan business model yang tepat karena integrasi ini membuat modelnya semakin rumit. Setiap data dari masing-masing lini bisnis harus kami pahami dan integrasikan,” tandasnya.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .