AirAsia Tertekan Kenaikan Harga Avtur, Malaysia Belum Siapkan Dana Talangan



KONTAN.CO.ID - Pemerintah Malaysia menegaskan belum memiliki kesepakatan maupun komitmen untuk memberikan bantuan keuangan kepada operator maskapai berbiaya rendah AirAsia.

Meski demikian, pemerintah mengakui tengah mencermati kondisi keuangan maskapai tersebut di tengah kenaikan harga bahan bakar pesawat.

Mengutip Reuters, Selasa (20/10), Kementerian Keuangan Malaysia menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan industri penerbangan, termasuk kerugian kuartalan yang dilaporkan AirAsia.


Baca Juga: Dolar AS Stabil Selasa (20/10), Risiko Politik Prancis Bayangi Pergerakan Euro

Kerugian tersebut dikaitkan dengan kenaikan biaya bahan bakar akibat perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam jawaban tertulis parlemen pada Senin.

Pemerintah juga menyebutkan bahwa komunikasi dengan pelaku industri penerbangan terus dilakukan untuk memperoleh masukan dari para ahli industri dan teknis, sebagaimana dilakukan terhadap sektor ekonomi lain yang terdampak krisis di Timur Tengah.

“Sejauh ini, pemerintah belum membuat kesepakatan atau komitmen apa pun untuk memberikan dukungan pembiayaan kepada AirAsia, baik dalam bentuk jaminan, pinjaman maupun suntikan dana publik,” kata Kementerian Keuangan Malaysia.

Sebelumnya, Reuters melaporkan pada bulan ini bahwa AirAsia tengah berdiskusi dengan pemerintah Malaysia mengenai kemungkinan dukungan.

Baca Juga: Indonesia Raih 10 Medali di Hari Pertama Asian Para Games 2026

Namun, salah satu pendiri AirAsia, Tony Fernandes, mengatakan pembicaraan tersebut berfokus pada biaya yang berkaitan dengan operasional penerbangan, seperti pungutan bandara dan bahan bakar, bukan bantuan keuangan langsung.

Kementerian Keuangan Malaysia menegaskan, setiap permohonan dukungan dari perusahaan di sektor mana pun akan dipertimbangkan berdasarkan kepentingan negara dan masyarakat, keberlanjutan fiskal pemerintah, serta perlindungan dana publik sesuai ketentuan hukum dan prosedur yang berlaku.

Di sisi lain, pemerintah mengakui AirAsia memiliki peran penting dalam industri penerbangan Malaysia.

Maskapai tersebut menyumbang sekitar 41% dari total 104,5 juta pergerakan penumpang di bandara yang dikelola Malaysia Airports Holdings pada 2025. Pangsa AirAsia bahkan mencapai hampir 60% dari pergerakan penumpang domestik.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Didenda Rp5,17 Juta Akibat Tinggalkan Timnas Portugal

AirAsia juga dinilai berperan penting dalam menjaga konektivitas udara di Sabah dan Sarawak, dua negara bagian Malaysia di Pulau Kalimantan.

Besarnya kontribusi tersebut membuat kondisi keuangan AirAsia menjadi salah satu perhatian dalam menjaga keberlangsungan konektivitas penerbangan domestik.

Namun, hingga kini pemerintah Malaysia belum menetapkan komitmen pembiayaan untuk membantu maskapai tersebut menghadapi kenaikan biaya operasional.