Airlangga Beberkan Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Indonesia di Era AI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah sebut transformasi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi yang bertahan di kisaran 5% dalam tujuh tahun terakhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tujuh tahun terakhir berada di level sekitar 5%. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya sumber pertumbuhan baru agar ekonomi nasional dapat melaju lebih tinggi.

"Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 5% selama tujuh tahun terakhir," ujar Airlangga dalam agenda KADIN Monthly Economic Diplomatic Breakfast di Kemenko Perekonomian, Jumat (10/7/2026).


Ia menuturkan, selama periode tersebut Indonesia telah melewati berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi 1998–1999, krisis keuangan global 2008, hingga pandemi Covid-19. Menurutnya, setiap krisis berhasil dilalui melalui berbagai kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Baca Juga: Program Biodiesel B50 Hemat Devisa Rp 177 Triliun, Pangkas Emisi 44 Juta Ton CO2

Kini, Airlangga bilang tantangan baru muncul seiring meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik geopolitik dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan.

Menurut Airlangga, atas arahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan kemandirian nasional, baik di bidang pangan, energi, maupun transformasi digital yang memiliki peta jalan yang jelas.

Airlangga mengatakan, transformasi digital menjadi jawaban atas pertanyaan mengenai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia berikutnya.

"Pak James (James Riady, Kadin) sempat bertanya, apa mesin pertumbuhan ekonomi berikutnya? Jawabannya adalah transformasi digital," katanya.

Airlangga menjelaskan, transformasi digital memiliki keunggulan karena tidak bergantung pada jalur logistik global sehingga proses digitalisasi dapat berlangsung lebih cepat.

Lebih lanjut, Airlangga menilai AI akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada masa mendatang. Namun, pemanfaatannya harus dilakukan secara tepat agar memberikan manfaat yang optimal.

"AI itu seperti mobil Lamborghini. Mobil tersebut sangat cepat, tetapi apakah aman atau berbahaya sepenuhnya bergantung pada siapa yang mengemudikannya," ujar Airlangga.

Baca Juga: Prabowo Bertolak ke NTB, Resmikan Lima Bendungan Sekaligus

Menurutnya, pengembangan AI memerlukan ekosistem yang kuat, mulai dari ketersediaan data, pusat data (data center) berskala besar, hingga infrastruktur komputasi dan industri semikonduktor.

"Tanpa data tidak akan ada AI. Tanpa hyperscale data center, AI juga tidak akan berkembang. Dan tanpa server komputasi serta chip semikonduktor, AI tidak akan mampu berkembang secara optimal," katanya.

Untuk mendukung ekosistem tersebut, Indonesia juga menjalin kerja sama dengan Inggris dalam pengembangan generasi baru chip semikonduktor. Selain itu, pemerintah terus memperluas kerja sama internasional di bidang AI, termasuk dengan Amerika Serikat serta berbagai negara lainnya.

Airlangga mengatakan, pekan lalu pemerintah menghadiri forum PACSILICA dan pekan depan akan mengikuti pertemuan World AI Cooperation Organization di Shanghai guna mempelajari perkembangan AI global sekaligus memperkuat kolaborasi internasional.

"Bagi Indonesia, inilah awal dari mesin pertumbuhan ekonomi yang baru," ujar Airlangga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News