Airlangga Dorong Grab Bangun Data Center di Indonesia untuk Perkuat AI



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut pihaknya mendorong perusahaan teknologi Grab untuk segera membangun infrastruktur pusat data (data center) di dalam negeri agar dapat mendukung pengembangan AI (Artificial Intelligence) di Indonesia.

Airlangga menyebut, salah satu Indonesia dengan 280 juta jiwa telah menjadikan negara ini sebagai pusat pengembangan bisnis Grab. Menurut perhitungannya, 40% operasional Grab terjadi di Indonesia.

Baca Juga: Grab Luncurkan 13 Fitur Berbasis AI untuk Mudahkan Aktivitas Konsumen


“Ini adalah hasil dari 280 juta orang di Indonesia. Jadi 40% dari Grab operasional berasal dari Indonesia. Itulah kenapa saya berterima kasih bahwa Grab telah memilih Indonesia. Mengingat besarnya pangsa pasar tersebut, ketersediaan pusat data di dalam negeri menjadi sebuah keharusan agar layanan dapat berjalan dengan sangat cepat dan efisien," ujar Airlangga, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, Indonesia memiliki ekonomi digital yang sangat tinggi, e-commerce dengan nilai penjualan berharga hampir US$100 juta, dan menurut Indonesia Index Global Innovation 2025, dan satu indikator yaitu inovasi dapat dilihat di perusahaan startup di Indonesia. 

“Di tahun 2025, kita memiliki 3.200 startup, serta 7 perusahaan global scale unicorn beroperasi dalam bisnis makanan dan bekerja, e-commerce, dan bidang transportasi,” ungkapnya.

Baca Juga: SKK Migas Ungkap Lima Proyek LPG, Dua Pabrik Kapasitas 193 Ton Beroperasi Bulan Ini

Airlangga juga meyakinkan Grab bahwa Indonesia memiliki daya saing yang tinggi dalam penyediaan infrastruktur fisik untuk pusat data. Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan negara-negara lain tempat Grab beroperasi.

"Jika Anda melihat sekeliling, harga lahan, tarif listrik, hingga ketersediaan air di Indonesia adalah yang paling kompetitif. Kami mendorong Grab untuk memanfaatkan momentum ini sebagai langkah konkrit mempercepat transformasi ekonomi digital melalui inovasi di dalam ekosistem lokal," tambahnya.

Resiliensi ekonomi Indonesia juga menjadi modal kuat, dengan pertumbuhan mencapai 5,4% pada kuartal keempat—tercepat kedua di G20 setelah India.

Baca Juga: KPPI Mulai Penyelidikan Perpanjangan TPP Produk Impor Evaporator

"Konsumsi rumah tangga dari 280 juta penduduk kita menyumbang 53,63% terhadap PDB nasional. Infrastruktur data yang kuat akan mengoptimalkan potensi pasar yang masif ini," jelas Menko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News