KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (2/2/2026) dipicu oleh investor yang bereaksi terlalu cepat atas dinamika yang terjadi. Para investor itu cemas alias Fear of Missing Out (FOMO) sehingga melakukan aksi jual terhadap saham-saham yang terdampak kebijakan pasar modal. "Kami lihat saham-saham yang potensi tidak likuid, itu kalau di pasar modal investor-investor banyak yang ikut, yang kita sering sebut Fear of Missing Out," kata Airlangga usai Rapat Koordinasi Nasional di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Senin (2/2/2026).
Saham-saham itu diketahui berpotensi terdampak kewajiban peningkatan free float menjadi sekitar 15 persen.
"Nah, Fear of Missing Out ini terjadi dari investor yang berpikir bahwa saham-saham yang sekarang mereka invest itu termasuk yang saham kita sebut saham olahan. Sehingga itu nanti akan terkena regulasi yang harus naik free float-nya ke 15," beber Airlangga. "Sehingga dengan demikian mereka melepas saat sekarang," imbuhnya. Di sisi lain ia melihat, masih banyak saham dengan fundamental kuat yang mampu tumbuh positif di tengah koreksi pasar. Bahkan kini, aliran modal asing mulai kembali memasuki pasar modal (net inflow). "Kita lihat terjadi net inflow asing. Net inflow asing berarti kepercayaan asing terhadap perbaikan itu ada," tandasnya. Baca Juga: Ketua Banggar DPR Sebut Pengunduran Diri Pimpinan BEI dan OJK Belum Cukup Sebelumnya diberitakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (2/2/2026). IHSG anjlok 406,88 poin atau 4,88 persen ke level 7.922,73. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka di level 8.306,16, lebih rendah dari posisi penutupan sebelumnya di 8.329,61. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 7.820,23 hingga 8.313,06. Total volume transaksi tercatat mencapai 47,53 miliar saham dengan nilai Rp 28,91 triliun dan frekuensi 2,888 juta kali. Kapitalisasi pasar menyusut menjadi Rp 14.239 triliun.