KONTAN.CO.ID - Aktivitas sektor jasa China mencatat pertumbuhan paling lambat dalam enam bulan terakhir pada Desember 2025, seiring melunaknya pertumbuhan bisnis baru dan melemahnya permintaan luar negeri, berdasarkan survei sektor swasta yang dirilis Senin (5/1/2026). Indeks RatingDog China General Services PMI yang disusun oleh S&P Global turun tipis ke level 52,0 pada Desember, dari 52,1 pada November. Angka ini menjadi yang terendah sejak Juni, namun masih berada di atas ambang 50 yang memisahkan fase ekspansi dan kontraksi.
Baca Juga: Taruhan Trump di Venezuela: Risiko Geopolitik vs Harapan Pasokan Minyak Pertumbuhan bisnis baru tercatat sebagai yang paling lambat dalam enam bulan. Sementara itu, pesanan ekspor baru kembali terkontraksi setelah sempat tumbuh pada bulan sebelumnya. Survei mencatat penurunan tersebut terutama dipicu oleh melemahnya jumlah wisatawan asing. Meski demikian, sentimen pelaku usaha justru menguat. Subindeks ekspektasi bisnis naik ke level tertinggi dalam sembilan bulan, didorong oleh perkiraan membaiknya kondisi pasar serta rencana ekspansi perusahaan pada 2026. “Sektor jasa menutup 2025 dengan profil ‘pertumbuhan moderat, ekspektasi tinggi’,” kata Yao Yu, pendiri RatingDog. Namun ia menegaskan, penyusutan tenaga kerja dan permintaan eksternal yang volatil masih menjadi kendala utama.
Baca Juga: Trump Tidak Percaya Klaim Rusia soal Serangan Ukraina ke Kediaman Putin Perekonomian China sendiri masih berjuang memulihkan momentum di tengah tantangan struktural, mulai dari perlambatan berkepanjangan sektor properti hingga tekanan deflasi. Meski begitu, China diperkirakan tetap berada di jalur untuk mencapai target pertumbuhan sekitar 5% tahun ini. Pemerintah China belakangan meningkatkan upaya menekan kelebihan kapasitas dan perang harga antarperusahaan, sebagai bagian dari strategi melawan tekanan deflasi yang persisten. Dalam pertemuan penting Partai Komunis bulan lalu, para pemimpin China berjanji akan mempertahankan kebijakan fiskal yang “proaktif” pada 2026 guna mendorong konsumsi dan investasi demi menjaga pertumbuhan ekonomi. Survei juga menunjukkan perusahaan sektor jasa mengurangi jumlah tenaga kerja untuk bulan kelima berturut-turut, baik pekerja penuh waktu maupun paruh waktu. Kondisi ini berkontribusi pada sedikit peningkatan tumpukan pesanan (backlog).
Baca Juga: Bursa Jepang Dibuka Menguat Senin (5/1), Nikkei Naik Lebih dari 2% Di sisi biaya, harga input naik untuk bulan ke-10 berturut-turut, dipicu oleh kenaikan biaya bahan baku dan tenaga kerja.
Namun, ketatnya persaingan membuat perusahaan justru menurunkan harga jual, mencerminkan terbatasnya daya tawar harga. Sementara itu, Composite Output Index yang menggabungkan kinerja sektor manufaktur dan jasa tercatat di level 51,3, naik tipis dari 51,2 pada November.