JAKARTA. Pasar menyambut positif langkah kocok ulang kabinet (reshuffle) jilid II pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla. Buktinya, kemarin Rabu (27/7) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menembus level 5.300, namun akhirnya ditutup pada level 5.274,4. Kapitalis pasar modal pun kembali menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. "Nilai kapitalisasi pasar modal kita (27/7) sebesar Rp 5.676,6 triliun, menembus rekor sebelumnya pada 20 Juli 2016 yang sebesar Rp 5.639,4 triliun," ujar Direktur Utama BEI Tito Sulistio. Yang paling menarik perhatian pasar pada reshuffle kali ini adalah pulang kampungnya sang veteran, Sri Mulyani Indrawati. Presiden Jokowi memasukkan nama mantan Managing Director World Bank itu dalam daftar kabinet kerjanya.
Lalu apa saja faktor global dan domestik yang bakal menjadi penunjang pasar tanah air di semester II 2016. Faktor Global a. Sikap dovish bank sentral dunia: Ini tidak terlepas dari hasil referendum Brexit yang mengubah sikap bank sentral dunia. "Meningkatknya ketidakpastian global membuat The Fed mengambil sikap dovish," kata Alvin Pattisahusiwa, Director of Investment Manulife Aset Manajemen Indonesia. The Fed kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 26 Juli 2016 - 27 Juli 2016. Sehingga ia menimbang, rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed niscaya baru dapat direalisasikan pada kuartal kedua tahun 2017. Memang beberapa waktu lalu Gubernur The Fed Janet Yellen menuturkan, AS akan mengerek suku bunga acuan setidaknya satu kali pada tahun ini. Namun, berdasarkan konsensus, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2016 hanya mencapai 8,6%. Pada paruh pertama tahun 2016, The Fed memang urung merealisasikan rencananya karena kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia, termasuk China. Namun, sikap dovish kian menguat pasca keluarnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit. b. Peningkatan daya tarik ASEAN; Daya tarik Asia kembali meningkat bagi investor asing yang mencari kawasan investasi dengan ekposur rendah terhadap UK dan UE. Asia - terutama ASEAN - juga diuntungkan dari kondisi domestik yang tengah berada di siklus pelonggaran fiskal & memiliki monetary space yang longgar. Faktor Domestik Alvin menyebut ada tiga faktor yang menunjang pasar yakni, perbaikan postur fiskal, kebijakan moneter akomodatif, dan peningkatan aktivitas ekonomi. a. Membaiknya postur fiskal di tandai dengan upaya pemerintah mengatasi defisit fiskal dan pembiayaan infrastruktur. Melalui UU Tax Amnesty di mana pemerintah memperkirakan tambahan pendapatan Rp 165 triliun. Selanjutnya, pinjaman lunak Islamic Development Bank Rp 11,5 triliun untuk menata kawasan kumuh, program pengembangan perguruan tinggi, dan perluasan jaringan listrik. Penyertaan Modal Negara (PMN), di APBNP 2016, di mana DPR menyetujui PMN ke 20 BUMN Rp 44,4 triliun. PMN ini diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur, energi, pangan & kredit UMKM. B. Kebijakan moneter akomodatif. Di mana pemerintah akan fokus menjaga perekonomian domestik lewat pelonggaran moneter. Pelonggaran moneter terjadi didukung oleh tingkat inflasi yang terjaga, stabilitas rupiah, dan sikap dovish The Fed. C. Peningkatan aktivitas domestik. Berdasarkan perusahaan konsultan AT Kearney, Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia sebagai pasar ritel yang paling menarik. Alvin menyebut perusahaan ritel asing dan domestik telah menata rencana besar untuk perkembangan sektor ritel Indonesia. Pertama, Perusahaan ritel asal Dubai, Lulu, membuka outlet hypermarket pertama di bulan Juni dan telah menyiapkan biaya ekspansi US$ 500 juta untuk membuka 9 outlet di Indonesia. Kedua, Courts Singapura, Lotte Korea Selatan, IKEA dan H&M Swedia juga berencana melakukan ekspansi. Ketiga, Dari domestik, Indomaret dan Alfamart berencana melakukan ekspansi (tambahan 1,200-1,600 outlet). Meski demikian, ada sejumlah katalis negatif yang berpotensi menyeret pasar domestik. Pertama, resiko datang dari shortfall pendapatan pemerintah yang bisa berdampak pada belanja infrastruktur. Kedua, dampak pertumbuhan global yang lambat akan berdampak pada ekspor. Ketiga, intervensi pemerintah pada BUMN dianggap sebagai risiko bagi profitabilitas perusahaan & sentimen investor asing di Indonesia.