KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Para pedagang minyak di Asia, yang merupakan kawasan konsumen utama minyak dunia, memperkirakan harga akan tetap tinggi. Pertempuran baru yang terjadi di Timur Tengah meredupkan harapan akan berakhirnya konflik dalam waktu dekat. Kontrak berjangka minyak mentah Brent kembali naik ke atas level US$ 100 per barel pekan lalu. Senin (14/9/2026), per pukul 20.27 WIB, harga minyak Brent kembali naik 4,06% menjadi US$ 108,86 per barel. Kenaikan terjadi setelah serangan Houthi terhadap Arab Saudi mengenai jalur pipa minyak utama dan Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal. Kenaikan harga ini telah merembet ke pasar fisik. Premi spot untuk minyak mentah acuan Dubai dan Oman naik pekan lalu ke level tertinggi sejak Maret. Ini mencerminkan persaingan ketat untuk mendapatkan kargo minyak.
Premi untuk minyak mentah dari Afrika Barat, AS, dan Amerika Latin juga mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. "Berbeda dengan bulan Maret saat pasokan minyak tidak tersedia, kini minyak tersedia namun kita harus membayar harga yang jauh lebih tinggi," ujar seorang pedagang dari perusahaan kilang Asia yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip
Reuters, Senin (14/9/2026).
Baca Juga: Microsoft Susun Kode Etik AI, Larang Teknologi Menolak Shutdown SK Energy, perusahaan Korea Selatan, membeli 4 juta barel minyak mentah WTI AS untuk pengiriman Desember pada pekan lalu dengan premi sekitar US$ 24 per barel di atas harga
swap ICE Brent untuk November, menurut sumber-sumber perdagangan. GS Caltex membeli 2 juta barel minyak mentah AS dengan premi serupa terhadap acuan Dubai bulan November untuk pengiriman sampai di tempat tujuan, tambah sumber. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan premi sekitar US$ 13 per barel di atas harga acuan Dubai untuk pengiriman sampai di tempat tujuan bagi kargo AS yang terjual bulan lalu. Kilang-kilang independen China, yang tertekan oleh susutnya pasokan dari Iran dan Rusia, terus mencari sumber alternatif. Shenchi Petrochemical pekan lalu membeli minyak mentah al-Shaheen dengan harga sekitar US$ 23 per barel di atas acuan Dubai untuk pengiriman sampai di tempat tujuan. "Pasar minyak mentah tampak cukup positif dan kondisinya terlihat semakin ketat," ujar Andreas H. Lien, Wakil Presiden Perdagangan Produk Equinor, di sela-sela pertemuan industri APPEC pekan lalu.
Baca Juga: Dilema Kevin Warsh: Antara Inflasi Tinggi dan Mimpi Bunga Rendah Presiden AS Tiga perusahaan kilang Asia menyatakan, mereka beroperasi pada kapasitas penuh untuk meraih margin yang tinggi dari produk olahan dan petrokimia. Salah satu perusahaan tersebut menyebutkan bahwa minyak mentah jenis Basrah Medium dari Irak masih tersedia dalam jumlah besar, namun dengan premi sekitar US$ 20 per barel di atas harga acuan Dubai untuk pengiriman melalui metode transfer antar-kapal di luar Selat Hormuz. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding premi satu digit pada bulan sebelumnya. Ketidakpastian mengenai kecepatan pemulihan arus lalu lintas di Selat Hormuz telah memicu beragam perkiraan harga. Sebelum pecahnya konflik Iran pada 28 Februari, sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia melintasi Selat Hormuz. S&P Global Energy memperkirakan harga minyak mentah akan berada di kisaran rata-rata sedikit di bawah US$ 100 per barel pada tahun depan dalam skenario dasar. Harga bisa melonjak hingga US$ 120 per barel jika gangguan lalu lintas di Selat Hormuz terus berlanjut, namun bisa turun di bawah US$ 60 dalam skenario pemulihan cepat.