AKR berharap bisnis BBM bisa tumbuh 20%



JAKARTA. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yakin penurunan harga solar subsidi yang dilakukan pemerintah tidak akan menggangu kinerja perusahaan ini dalam bisnis jual beli solar. Sebab, permintaan solar non subsidi tidak akan lantas drop akibat solar subsidi yang turun ini.

Suresh Vembu, Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur PT AKR Corporindo Tbk menyatakan, selama ini pangsa pasar solar AKR adalah industri yang memang tidak boleh memakai solar subsidi.

Selain itu pelaku bisnis selama ini sudah terbiasa dengan naik turunya harga solar untuk industri. Dia menerangkan, penjualan solar non subsidi selama ini tergantung kondisi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Sebab mayoritas solar non subsidi harus diimpor langsung dari luar. Suresh lebih senang jika kebijakan pemerinah mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.


"Agar ada peningkatan demand solar. Karena konsumen terbanyak dari dunia usaha," ungkap dia kepada KONTAN, Senin (12/10).

Manajemen AKR juga tidak lantas merespon kebijakan pemerintah itu dengan menurunkan harga jual solar non subsidi yang mereka jual. Sebab harga solar AKR ini bisa dilihat dari mean of platts Singapore (MOPS).

Adapun selama ini AKR menjual solar untuk industri di kisaran Rp 6.400 per liter- Rp 8.000 per liter, tergantung jumlah volume pembelian. "Kami menjual solar ke industri pembangkit, pertambangan, dan juga ritel seperti ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)," kata dia.

Suresh menyebut, meski harga solar dipaksa turun oleh pemerintah, pihaknya masih tertolong dengan bisnis distribusi BBM ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Tahun ini AKR sudah menambah sebanyak 55 unit SPBU. Kini di seluruh Indonesia, PT AKR Corporindo Tbk memiliki 170 SPBU.

Sayangnya Suresh enggan memberikan konformasi detil soal anggaran ekspansi pembangunan SPBU yang nilainya sekitar US$ 20 juta–US$ 25 juta tahun ini. "Investasi yang dikeluarkan tergantung lokasi, serta perjanjian waralaba dengan mitra yang kami gandeng," terang Suresh.

Hingga kuartal III 2015, penjualan perusahaan yang bisnis utamanya bergerak di jasa distributor BBM ini mampu tumbuh 15%-20% dibanding dengan penjualan Kuartal III-2014. Namun Suresh menolak memprediksi pertumbuhan penjualan PT AKR Corporindo Tbk di akhir 2015 dibandingkan dengan kinerja 2014.

"Itu nanti setelah angka pasti Kuartal III tahun sudah bisa keluar," ujarnya.

Mengacu laporan keuangan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) pada Bursa Efek Indonesia per Semester I-2015, penjualan dan pendapatan AKR mencapai Rp 10,27 triliun. Angka ini susut 8,71% dibandingkan semester I-2014 sebesar Rp 11,25 triliun. Sementara laba periode berjalan Rp 630,34 miliar. Jumlah ini tumbuh 73,13% dibanding Semester I-2014 yang mencapai Rp 364,07 miliar.

Proyek infrastruktur

Tak hanya menjalankan bisnis distribusi dan penjualan BBM, AKR juga mempunyai proyek lain seperti pembangunan pembangkit listrik berkapasitas 4x300 megawatt (MW) di Gresik, Jawa Timur. Proyek ini akan di bangun di kawasan industri dan pelabuhan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE).

"Tapi belum bisa kami pastikan kapan realisasinya. Semua bergantung seberapa cepat penyelesaian pembangunan kawasan Industri JIPE. Kami sendiri menargetkan pembangunan JIPE akan tuntas dalam tiga atau empat tahun lagi," tambah Suresh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie