Aksi Akuisisi dan Merger Sektor Keuangan Indonesia Lesu pada 2023



 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi akuisisi maupun merger di sektor keuangan tampak lesu sepanjang tahun berjalan 2023 ini. Tak hanya secara global, di Indonesia pun nilai transaksi terkait aksi tersebut tercatat menurun.

Berdasarkan data Bloomberg (29/11), nilai transaksi akuisisi dan merger di sektor jasa keuangan secara global tercatat senilai US$ 580,9 miliar. Capaian tersebut mengalami turun 44,1% secara tahunan (YoY). 

Tak berbeda jauh, transaksi akuisisi dan merger di tanah air pun mengalami koreksi, meski tak sebesar penurunan secara global. Di Indonesia, nilai transaksinya mencapai US$ 2,3 miliar atau turun 33,4% YoY hingga 29 November 2023.


Baca Juga: Tensi Politik Menghangat, Aksi Akuisisi Masih Akan Ramai Jelang Tutup Tahun?

Dari data yang ada, beberapa transaksi aksi akuisisi dan merger tersebut banyak berasal dari industri keuangan non bank. Mengingat, transaksi di sektor perbankan hanya tercatat US$ 211,6 juta.

Adapun, transaksi terbesar berasal dari aksi akuisisi yang dilakukan konsorsium yang dipimpin oleh Grup Salim senilai US$ 613 juta. Konsorsium tersebut mengakuisisi beberapa perusahaan yang diumumkan pada 15 Agustus 2023 dengan status pending.

Selanjutnya, ada akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan keuangan asal Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group Inc untuk PT Mandala Multifinance Tbk (Mandala Finance). Aksi akuisisi tersebut senilai US$ 561,7 juta dengan status pending.

Managing Director Mandala Finance Cristel Lasmana bilang saat ini proses akuisisi tersebut masih berjalan. Ia menyebutkan semua pihak terlibat melakukan sinergi berkelanjutan agar semua proses berjalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

“Diperkirakan transaksi ini akan selesai di tahun 2024,” ujar Cristel, Rabu (29/11).

Baca Juga: Simak Tren Akuisisi 2023, Tetap Jalan meski Akuisisinya Kini Berbayar

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman bilang bahwa memang sepanjang tahun ini ada beberapa perusahaan pembiayaan yang melakukan aksi akuisisi. Memang, jumlahnya tidak terlalu banyak.

Dalam perkembangan terbaru, ia juga menyebut belum ada lagi rencana aksi akuisisi yang terjadi di industri pembiayaan. Namun, ia menilai konsolidasi adalah pilihan yang baik di tengah masih perlunya penguatan permodalan.

“Kita sedang susun peta jalan perusahaan pembiayaan dan RPOJK turunan dari UU P2SK, di situ nanti akan kelihatan (kebijakan konsolidasi),” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae bilang bahwa semangat konsolidasi di industri perbankan masih cukup tinggi. Sebab, prospek keuntungan dan peluang bisnis perbankan tanah air masih sangat terbuka untuk semua segmen.

Namun, ia menyebutkan aksi akuisisi dan merger perbankan saat ini masih terjadi secara organik. Meskipun, OJK punya kewenangan untuk memaksa adanya konsolidasi berdasarkan UU P2SK.

“Sebagian masih dalam tahap negosiasi, sebagian masih sedang menunggu waktu yang tepat,” ujarnya.

Baca Juga: Permintaan Kredit Korporasi Perbankan Lesu pada Pertengahan Tahun 2023, Ini Sebabnya

Dian berpandangan aksi konsolidasi perbankan saat ini sejatinya memang masih dibutuhkan. Mengingat, ini bisa memberi dampak bagi perbankan untuk memperkuat daya saing dan ekspansi bisnisnya.

Rencana aksi akuisisi yang baru-baru ini terdengar di industri perbankan berasal dari PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN). Bank pelat merah tersebut berencana untuk mengakuisisi bank syariah dalam rangka memisahkan unit usaha syariah miliknya menjadi bank umum syariah.

Bank tersebut pun telah mengkonfirmasi bahwa saat ini pihaknya sudah mengincar dua bank dan rencana akan terjadi di 2024. Dengan akuisisi tersebut, BTN berharap BTN Syariah akan menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli