Aksi China memoles logam industri



JAKARTA. Kebijakan bank sentral China memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pekan lalu memantik kenaikan harga sejumlah komoditas. Komoditas logam industri dan minyak sawit adalah yang paling diuntungkan dengan kebijakan ini. Namun, komoditas energi dan logam mulia bergeming.

Namun, analis menduga, reli harga sejumlah komoditas itu tak akan berlangsung lama. Pasalnya, permintaan tetap sulit pulih dan dollar AS masih cenderung menguat. Berikut ulasan selengkapnya.

Logam Industri


Komoditas logam industri merespons positif langkah China melonggarkan kebijakan moneter. Data Bloomberg memperlihatkan, Senin (11/5) pukul 15.00 waktu Hong Kong, harga nikel di London Metal Exchange melesat 1,2% menjadi US$ 14.475 per metrik ton. Lalu, harga timah juga naik 0,47% ke level US$ 15.975 per metrik ton. Harga tembaga juga reli tipis 0,03% menjadi US$ 6.389 per metrik ton.

Analis Equilibrium Komoditi Berjangka Ibrahim mengatakan, harga logam mulia kompak menguat lantaran  pelaku pasar berharap pelonggaran moneter bisa mendongkrak perekonomian. Dus, permintaan logam industri turut meningkat. Maklum, China termasuk importir logam  terbesar di dunia.

Namun, Ibrahim menduga, optimisme itu hanya berlaku sementara. Pasalnya, China sudah sering memangkas suku bunga, namun tanpa program yang jelas. Buktinya, data ekonomi China belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dari sektor properti,  hanya 10 kota dari 70 kota di China yang pertumbuhan pasar propertinya masih bagus. Padahal metal paling banyak dipakai sektor properti. "Melambatnya sektor properti artinya permintaan logam  pun lesu," kata dia.

Maka, Ibrahim menduga, kenaikan harga logam industri hanya jangka pendek. Hingga tutup semester I-2015, tren bearish masih akan menyelimuti  harga komoditas metal.  Tren pelemahan ini kemungkinan berlanjut hingga pengujung tahun 2015. Di saat fundamental permintaan belum pulih, harga logam industri akan semakin terjepit penguatan kurs dollar AS.

Hingga akhir tahun ini, prediksi Ibrahim, harga timah di kisaran US$ 10.000-US$ 13.000 per metrik ton. Lalu, harga tembaga di kisaran US$ 4.500- US$ 6.000 per metrik ton, dan harga nikel bergulir antara US$ 9.000-US$ 12.000 per metrik ton.

CPO

Pelonggaran kebijakan moneter China juga menyulut harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO)  merekah. Mengutip Bloomberg, Senin (11/5) pukul 18.00 WIB, harga CPO kontrak pengiriman Juli 2015 di bursa Malaysia Derivative Exchange melonjak 1,53% menjadi RM 2.185 per metrik ton.

Research and Analyst Fortis Asia Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, seperti harga logam industri yang kompak naik, harga CPO juga terkerek kebijakan China. Maklum, Negeri Tirai Bambu merupakan salah satu konsumen minyak sawit terbesar.

Namun, tak seperti prospek logam, kenaikan harga minyak sawit diperkirakan bisa bertahan cukup lama. Pasalnya, permintaan dari pasar global berpotensi melonjak menjelang Ramadhan. Apalagi, kata Deddy, pemerintah China sedang menggalakkan penggunaan bioenergi. "Diharapkan ada kenaikan permintaan dengan pengalihan penggunaan energi nabati," paparnya.

Meski demikian, ia mengingatkan, masih ada ancaman bagi penguatan harga minyak sawit. Pasokan berlimpah bisa menjegal laju harga CPO. Pasalnya, Malaysia Palm Oil Board mencatat, produksi CPO Malaysia pada bulan April lalu meningkat 12% menjadi 1,67 juta ton. Jumlah ini merupakan yang tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Apabila kenaikan produksi tidak diikuti kenaikan permintaan secara global, harga CPO rawan terkoreksi lagi. "Apalagi jika harganya gagal menembus level RM 2.250 per ton pada semester I-2015 ini," prediksi Deddy.

Meski demikian, dia tetap optimistis harga minyak sawit bisa menguat hingga akhir tahun nanti. Permintaan dari pasar Asia dan Eropa masih berpotensi tumbuh seiring pengucuran stimulus di dua kawasan tersebut. Prediksinya, harga CPO berada di kisaran RM 2.250 hingga RM 2.400 per metrik ton sampai akhir tahun nanti.

Batubara

Kebijakan moneter China tak mempan mendongkrak harga komoditas energi. Mengutip Bloomberg, Jumat (8/5), harga batubara kontrak pengiriman Juni 2015 turun 0,25% ke level US$ 58,15 per metrik ton. Sepekan, harganya tergerus sebesar 2,3%.

Menurut Ibrahim, China justru sedang menggiatkan pengalihan penggunaan energi fosil menjadi energi terbarukan. Ini bisa memicu penurunan permintaan batubara. "Jadi, meskipun pemotongan suku bunga mampu mendongkrak perekonomian China, tetap tidak berdampak bagi harga batubara," jelasnya.

Maka, Ibrahim menduga, tren penurunan harga batubara akan berlanjut sampai akhir semester pertama ini. Prediksinya, harga akan berada di  kisaran US$ 49 hingga US$ 61 per metrik ton.

Bahkan, ia menduga, koreksi harga batubara bisa memburuk pada akhir tahun ini. Sebab, menjelang akhir tahun, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) akan kembali menghangat. Kondisi ini memicu dollar AS semakin kokoh. Efeknya, harga komoditas batubara akan terseret jatuh.

Ibrahim memperkirakan, harga  batubara bisa menuju support di level US$ 40 dengan resistance di level US$ 60 pada akhir tahun ini.

Emas

Langkah moneter China tidak bisa menyokong harga emas. Mengutip Bloomberg, per Senin (11/5) pukul 17.30 WIB, harga emas pengiriman Juni 2015 di Commodity Exchange turun 0,37% ke level US$ 1.184,40 per troi ons. 

Analis SoeGee Futures Nizar Hilmy bilang, secara historis harga emas tidak pernah merespons ketika bank sentral China memangkas bunga. Menurutnya, pergerakan emas lebih ditentukan arah dollar AS. Selama mata uang Uwak Sam itu menguat, harga emas bakal kalah bersaing. 

Meski demikian, Nizar menduga, ada peluang emas menanjak ke level US$ 1.230 per troi ons di akhir semester I. Ini bisa terjadi asalkan The Fed tidak mengerek suku bunga. Sebaliknya, jika AS menaikkan bunga secara agresif, emas bisa terjun ke support US$ 1.140 per troi ons.    

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto