KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Aksi jual di pasar saham global semakin marak dan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Selasa (3/3/2026), karena investor mempertimbangkan implikasi serangan AS dan Israel terhadap Iran pada harga energi dan ekonomi global. Selasa (3/3/2026), indeks saham Asia-Pasifik terluas MSCI di luar Jepang turun 2,9%, memperpanjang penurunan untuk hari kedua. Dipimpin penurunan tajam 7,2% pada saham Korea setelah negara tersebut kembali beroperasi pasca liburan dengan penurunan satu hari terbesar sejak Agustus 2024. Sementara, indeks Nikkei 225 Tokyo anjlok 3,1% dan futures S&P 500 e-mini turun 0,9%.
"Ketidakpastian kebijakan ekonomi sudah tinggi dan sekarang dengan konflik Iran, risiko geopolitik diperkirakan akan meningkat juga," kata Rupal Agarwal, ahli strategi kuantitatif Asia di Bernstein di Singapura seperti dilansir
Reuters.
Baca Juga: Timur Tengah Panas, IMF: Masih Terlalu Dini Menilai Dampak ke Ekonomi Global Gelombang penjualan saham yang kembali terjadi muncul setelah Wall Street bergerak stabil menyusul sesi yang bergejolak pada hari Senin. Presiden AS Donald Trump berusaha membenarkan perang yang luas dan tanpa batas waktu terhadap Iran, dengan mengatakan bahwa kampanye tersebut melampaui ekspektasi. Tanpa akhir permusuhan yang terlihat, seorang pejabat dari Garda Revolusi Iran mengatakan pada hari Senin, Selat Hormuz ditutup untuk lalu lintas maritim. Iran akan menembak kapal apa pun yang mencoba melewatinya. Ancaman tersebut berdampak langsung, mendorong biaya penyewaan kapal tanker super untuk mengirim minyak dari Timur Tengah ke China ke rekor tertinggi lebih dari US$ 400.000 per hari, menurut data LSEG. Setelah harga minyak dan gas melonjak pada hari Senin, harga minyak mentah Brent naik lagi 2,3% menjadi $79,50 pada hari Selasa. Di pasar gas alam, harga LNG acuan Eropa dan Asia melonjak sekitar 40% pada hari Senin.
Tingkatkan Biaya
Lonjakan harga energi dapat meningkatkan biaya bagi perusahaan-perusahaan Asia dan membebani keuntungan serta saham mereka, yang telah melonjak tajam sepanjang tahun ini. "Kami memperkirakan kenaikan 20% pada Brent dapat mengurangi pendapatan regional sebesar 2% dengan variasi intraregional yang luas, tetapi ini bergantung pada durasi konflik," tulis analis dari Goldman Sachs dalam sebuah laporan riset. Goldman menyebut, lonjakan risiko geopolitik cenderung memiliki efek jangka pendek negatif tetapi mereda seiring waktu. "Kenaikan risiko geopolitik saat ini bertepatan dengan kerentanan regional terhadap koreksi," tulis analis Goldman Sachs.
Baca Juga: AS Perintahkan Beberapa Staf Diplomatik Tinggalkan Timur Tengah Lonjakan harga energi mempersulit upaya Federal Reserve untuk menjaga inflasi tetap terkendali, dengan para pembuat kebijakan sudah menunjukkan tanda-tanda perpecahan seputar dampak kecerdasan buatan terhadap ekonomi AS. "AS akan mengambil tindakan untuk mengurangi kenaikan harga energi akibat lonjakan harga minyak yang disebabkan oleh konflik Iran," kata Menteri Luar Negeri Rubio pada hari Senin. Data manufaktur ISM yang dirilis Senin menunjukkan aktivitas AS tumbuh stabil pada bulan Februari, tetapi indikator harga di tingkat pabrik melonjak ke level tertinggi hampir 3,5 tahun di tengah tarif, menyoroti tekanan kenaikan inflasi bahkan sebelum serangan terhadap Iran. Kontrak berjangka dana Fed memperkirakan probabilitas tersirat sebesar 95,4% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada akhir pertemuan dua hari berikutnya pada 18 Maret, menurut alat FedWatch dari CME Group. Beberapa analis, dengan alasan pergerakan terbatas di pasar global, optimis tentang dampak yang lebih luas dari konflik tersebut terhadap perekonomian secara keseluruhan. "Jelas ini tidak akan positif," kata Jahangir Aziz, salah satu kepala riset ekonomi JPMorgan, pada sebuah pertemuan media di Singapura pada hari Selasa. "Setiap peningkatan ketidakpastian politik tidak baik untuk perekonomian," katanya. Tetapi saat ini, kata dia, kami tidak benar-benar berpikir bahwa ini akan menjadi guncangan sistemik bagi perekonomian global.
Baca Juga: AS Siapkan Langkah Redam Lonjakan Harga Minyak Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, bertahan mendekati level tertinggi enam minggu di 98,73 karena mata uang tersebut kembali mendapatkan daya tariknya sebagai aset aman. Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 0,9 basis poin menjadi 4,059%. "Dinamika pasar saat ini hanya menunjukkan sedikit sentimen penghindaran risiko, tidak cukup untuk mempertahankan permintaan yang kuat pada obligasi US Treasury atau untuk mendorong The Fed melakukan pemotongan suku bunga lebih cepat," tulis analis dari DBS dalam catatan riset. Namun, tulis analis DBS, konflik tersebut memang menimbulkan momok stagflasi. Meskipun harga energi jauh dari level yang terlihat selama awal konflik Rusia-Ukraina.