KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Kamis (2/7/2026), dipimpin aksi jual saham-saham semikonduktor setelah reli kuat pada kuartal II. Pelaku pasar juga mengambil posisi hati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Baca Juga: Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS Kamis (2/7) Pagi, Won Korea Ikut Tertekan Melansir
Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,8%, sementara indeks Nikkei Jepang melemah 1,1%, memperpanjang koreksi sejak awal kuartal III. Di Korea Selatan, indeks KOSPI merosot 2,7%, melanjutkan penurunan sekitar 2% pada perdagangan sehari sebelumnya. Padahal, sepanjang kuartal II indeks tersebut telah melonjak sekitar 68%, didorong reli saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Saham produsen cip SK Hynix anjlok 7,7%, sedangkan Samsung Electronics turun 6,2%. Tekanan di sektor semikonduktor muncul setelah laporan yang menyebut Meta Platforms tengah membangun bisnis layanan komputasi awan (cloud) untuk menjual kelebihan kapasitas komputasi AI. Kabar tersebut justru mendorong saham Meta melonjak 8,8% pada perdagangan Wall Street semalam. Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,8%.
Baca Juga: AS Setujui Penjualan Tambahan Rudal Hellfire ke Singapura Senilai US$22,3 Juta Investor menanti data tenaga kerja AS Fokus investor kini tertuju pada rilis data nonfarm payrolls AS untuk Juni yang dijadwalkan terbit pada Kamis waktu setempat, lebih awal dari biasanya karena libur Hari Kemerdekaan AS pada Jumat. Ekonom yang disurvei
Reuters memperkirakan, ekonomi AS menciptakan 110.000 lapangan kerja baru pada Juni, dengan tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4,3%. Namun, rentang proyeksi yang lebar, yakni antara 25.000 hingga 200.000 pekerjaan baru, menunjukkan potensi kejutan yang cukup besar.
Baca Juga: Bursa Saham Korea Selatan Anjlok 6% Kamis (2/7), Sektor Chip Jadi Biang Kerok Chris Weston, Head of Research Pepperstone mengatakan, pasar saham berharap data ketenagakerjaan menunjukkan kondisi ekonomi yang tetap solid tanpa memicu ekspektasi kenaikan suku bunga lebih agresif. "Pelaku pasar ekuitas menginginkan skenario ideal, yakni penciptaan lapangan kerja yang tetap baik dengan tingkat pengangguran stabil. Hasil seperti itu akan mengurangi risiko meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat," ujarnya. Dolar AS tetap kuat, harga minyak dan emas bergerak berlawanan Ketua bank sentral AS, Federal Reserve, Kevin Warsh, kembali menegaskan komitmen menjaga target inflasi 2% dan tidak memberi sinyal pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut membuat pasar kini memperkirakan peluang sekitar 80% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.
Baca Juga: Australia Catat Defisit Perdagangan Terbesar Sejak 2015 pada Mei, Apa Penyebabnya? Kenaikan ekspektasi suku bunga turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor dua tahun naik menjadi 4,1785%, sementara yield obligasi tenor 10 tahun bertahan di 4,4811%.
Imbal hasil yang lebih tinggi menopang penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama. Sementara itu, harga minyak kembali melemah ke level terendah dalam empat bulan. Brent turun 0,8% menjadi sekitar US$71 per barel, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran di Qatar berlangsung positif dan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terus membaik. Di sisi lain, harga emas spot naik 0,5% menjadi sekitar US$4.050 per ons, memanfaatkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar.