Aksi Jual Saham Software Kian Dalam, Ancaman AI Hapus Hampir US$1 Triliun Nilai Pasar



KONTAN.CO.ID - Gelombang aksi jual saham perusahaan perangkat lunak dan layanan global menghapus hampir US$1 triliun nilai pasar, seiring investor menilai apakah kecerdasan buatan (AI) menjadi ancaman eksistensial bagi kelangsungan bisnis sektor tersebut.

Pada Rabu (4/2/2026), pelaku pasar masih menimbang apakah aksi jual yang terjadi sepanjang pekan ini sudah berlebihan.

Setelah indeks S&P 500 sektor software dan services anjlok hampir 4% pada Selasa, indeks tersebut kembali melemah 0,73% pada Rabu.


Penurunan ini menandai enam sesi berturut-turut di zona merah dan menghapus sekitar US$830 miliar kapitalisasi pasar sejak 28 Januari.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik Lebih dari 1% Kamis (5/2) Pagi, Ditopang Ketegangan Geopolitik

Tekanan terhadap saham perangkat lunak meningkat dalam beberapa bulan terakhir, seiring AI yang sebelumnya menjadi pendorong pertumbuhan kini dipandang sebagai potensi disrupsi.

Aksi jual terbaru dipicu oleh peluncuran alat hukum baru dari model bahasa besar (large language model/LLM) Claude milik Anthropic.

Alat tersebut berupa plug-in untuk agen Claude yang dapat digunakan dalam berbagai tugas, mulai dari hukum, penjualan, pemasaran, hingga analisis data.

Inovasi ini menegaskan penetrasi LLM ke “lapisan aplikasi”, wilayah yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama perusahaan perangkat lunak untuk membiayai investasi besar mereka.

Jika sukses, investor khawatir teknologi ini dapat mengguncang berbagai industri, mulai dari keuangan, hukum, hingga pemrograman.

Strategi LLM ini mengingatkan sebagian analis pada langkah Amazon.com, yang berawal dari ceruk penjualan buku daring sebelum berkembang menjadi raksasa di sektor ritel, komputasi awan, dan logistik.

Baca Juga: Skandal Epstein: Dokumen Baru Ungkap Sisi Gelap Bill Gates?

Meski demikian, sejumlah analis menilai keberhasilan LLM belum tentu terjamin, mengingat teknologi ini masih kekurangan data khusus yang krusial bagi industri tertentu.

Aksi jual saham mencerminkan upaya investor melindungi portofolio di tengah kemajuan teknologi yang cepat dan membuat valuasi serta prospek bisnis menjadi semakin sulit diprediksi dalam kerangka proyeksi tiga hingga lima tahun ke depan.

“Aksi jual ini, yang bisa dibilang dimulai sejak kuartal lalu, mencerminkan kesadaran baru akan kekuatan disrupsi AI,” kata Chief Investment Officer Ocean Park Asset Management, James St. Aubin.

Ia menambahkan, keunggulan kompetitif perusahaan perangkat lunak kini terasa semakin menyempit akibat persaingan dari produk berbasis AI.

Menurutnya, meski berpotensi berlebihan, ancaman tersebut nyata dan harus diperhitungkan dalam valuasi, bahkan bisa menjadi sinyal peringatan bagi pasar tenaga kerja.

Baca Juga: Alphabet Siap Gandakan Capex 2026, Dorong Ekspansi AI dan Cloud

Tekanan pasar terlihat jelas pada sejumlah saham besar. Thomson Reuters, pemilik basis data Westlaw, sempat anjlok hampir 16% pada Selasa setelah mencatat tujuh sesi penurunan beruntun, sebelum rebound hampir 2% pada Rabu.

MSCI turun 1,8% setelah sehari sebelumnya terkoreksi sekitar 7%.

Di Inggris, saham Relx ditutup melemah 1,3% setelah merosot 14% pada Selasa, sementara London Stock Exchange turun tipis 0,1% usai anjlok hampir 13% pada sesi sebelumnya.

Secara keseluruhan, indeks S&P 500 sektor software dan services telah turun hampir 13% dalam enam sesi terakhir dan merosot 26% dari puncaknya pada Oktober.

Aksi jual yang semakin dalam belum mampu menarik minat pemburu saham murah, dengan pola beli saat harga turun yang biasanya menyelamatkan saham teknologi tampak absen.

Baca Juga: Dolar AS Pulih Kamis (5/2) Pagi, Jelang Keputusan Suku Bunga ECB dan BoE

Dampaknya merembet ke sektor lain. Pada Selasa, saham pengelola aset seperti Apollo, Ares, Blackstone, Blue Owl, Carlyle, dan KKR turun antara 3% hingga 11%, dipicu kekhawatiran bahwa pelemahan sektor perangkat lunak dapat memicu masalah kredit.

Sejumlah saham tersebut kemudian pulih antara 0,2% hingga 5% pada Rabu.

Pasar saham secara keseluruhan juga tertekan. Indeks S&P 500 turun 0,51% dan Nasdaq Composite melemah 1,51%.

Sejumlah saham teknologi besar ikut terkoreksi, termasuk Nvidia yang turun 3,4%, Meta Platforms 3,2%, Alphabet 2%, dan Oracle 5,1%.

Meski demikian, beberapa pihak menilai kekhawatiran terhadap AI berlebihan. CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan bahwa anggapan AI akan menggantikan perangkat lunak adalah tidak logis.

Pandangan serupa disampaikan analis JPMorgan yang menilai tidak masuk akal jika satu plug-in LLM dianggap mampu menggantikan seluruh lapisan perangkat lunak inti perusahaan.

Baca Juga: Emirates Lirik A350-2000: Potensi Pesawat Jumbo Baru Mengudara?

Sejumlah analis berpendapat bahwa aksi jual saham perangkat lunak justru berlebihan.

Mereka menilai kemajuan AI seharusnya memudahkan penciptaan aplikasi yang lebih baik dengan biaya lebih rendah, sehingga berpotensi meningkatkan margin perusahaan perangkat lunak dalam jangka panjang.

Selanjutnya: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.805 Per Dolar AS Hari Ini (5/2), Asia Kompak Turun

Menarik Dibaca: Panduan IDAI: Lindungi Keluarga dari Virus Nipah yuk, Ini Cara Makan yang Aman