Aksi Massal Jual Dolar Bikin Rupiah Perkasa, Begini Proyeksi Besok (29/1)



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (28/1/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,27% secara harian ke Rp 16.722 per dolar AS.

Sedangkan berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah menguat 0,46% secara harian ke Rp 16.723 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah menguat didukung oleh perlemahan dolar AS yang meluas dan tajam oleh sell America trade. Namun rupiah sulit kembali melanjutkan penguatan secara permasalahan domestik seperti kekuatiran defisit anggaran, independensi BI dan terakhir sentimen risk off yang sangat besar di equitas domestik bisa berbalik menekan rupiah, kecuali tentunya apabila indeks dolar AS kembali turun tajam. 


Baca Juga: IHSG Berpeluang Tertekan ke 8.050 Kamis (29/1/2026) dan Potensi Outflow Rp 40 Triliun

“Namun untuk besok akan tergantung pada hasil FOMC malam ini untuk panduan prospek suku bunga the Fed kedepannya,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (29/1/2026). 

Lukman memproyeksikan rupiah pada Kamis (29/1) dikisaran Rp 16.650 – Rp 16.800 per dolar AS.   

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, momentum penguatan ini didorong oleh aksi massal jual dolar (sell America) di pasar global setelah indeks dolar terkapar ke titik terendah dalam empat tahun terakhir. Serta respons positif pelaku pasar terhadap janji Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas melalui intervensi aktif di berbagai lini pasar. 

“Meskipun demikian, penguatan mungkin akan bergerak fluktuatif mengingat pasar sedang memasuki fase "tunggu dan lihat" (wait and see) pasca keputusan Federal Reserve yang diprediksi menahan suku bunga di tengah tekanan politik Gedung Putih,” ujar Sutopo. 

Sutopo menambahkan, sentimen utama yang wajib dicermati adalah risiko Government Shutdown di Amerika Serikat yang mendekati tenggat waktu 30 Januari, di mana ketidakpastian anggaran ini berpotensi semakin menekan daya tarik Greenback. 

Dari sisi domestik, perhatikan rilis data inflasi dan produk domestik bruto (PDB) kuartal IV – 2025 yang dijadwalkan pekan depan, karena angka-angka ini akan menjadi penentu seberapa besar ruang pelonggaran moneter lanjutan yang dimiliki oleh Bank Indonesia. 

“Selain itu, pantau terus pernyataan susulan dari otoritas AS mengenai isu Greenland atau kritik terhadap independensi The Fed, sebab retorika politik yang tidak stabil di Washington saat ini menjadi "angin segar" bagi mata uang Garuda untuk tetap perkasa,” jelas Sutopo. 

Baca Juga: BEI: Pelemahan IHSG Tidak Menjadi Isu Bagi Investor Ritel

Sutopo memproyeksikan rupiah pada Kamis (29/1) cenderung melanjutkan tren penguatan moderat di kisaran Rp 16.650 hingga Rp16.780 per dolar AS.

Selanjutnya: Purabaya Sebut Juda Agung Bakal Dilantik Jadi Wamenkeu pada Februari

Menarik Dibaca: Jangan Lewatkan! Promo Alfamart Serba Gratis Berakhir 31 Januari 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News