Aksi replanting Salim Ivomas (SIMP) akan berdampak positif untuk jangka panjang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) menganggarkan belanja modal hingga Rp 1,1 triliun pada tahun ini. Dana tersebut rencananya difokuskan untuk aksi penanaman kembali (replanting), peremajaan kelapa sawit, hingga meningkatkan kapasitas pabrik penyulingan (refinery).

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, langkah yang dilakukan oleh SIMP merupakan perbaikan kinerja untuk jangka panjang. Pasalnya, peremajaan sawit dan penanaman kembali tidak akan memberi dampak langsung ke kinerja emiten grup Salim tersebut.

“Mungkin dari sisi pembangunan pabrik refinery yang bisa memberi dampak langsung ke kinerja SIMP ketika pembangunannya sudah selesai. Namun, secara umum, ini menunjukkan SIMP tengah berupaya terus meningkatkan kinerja mereka,” jelas Sukarno kepada Kontan.co.id, Kamis (15/10).


Setali tiga uang, analis Phillip Capital Sekuritas Michael Filbery dalam risetnya pada Juni menuliskan, aksi penanaman kembali dan peremajaan justru dalam jangka pendek akan mengurangi hasil dari tanaman SIMP. Tapi secara jangka panjang tentu akan memberi imbas positif seiring produktivitas tanaman yang akan meningkat. Hingga akhir tahun, SIMP diperkirakan akan melanjutkan penanaman kembali dengan target mencapai 4.100 hektare.

Baca Juga: Lonsum (LISP) dan Salim Ivomas (SIMP) Siap Menyerap Belanja Modal Rp 1,6 Triliun

“Sementara pada akhir tahun lalu SIMP berhasil menambah kapasitas produksinya dengan membuka satu pabrik minyak sawit baru yang berkapasitas 45 MT TBS/jam. Hal tersebut berpeluang akan meningkatkan kapasitas pemrosesan minyak sawit sebesar 6%,” tulis Michael.

Michael menambahkan, SIMP pada tahun ini telah melakukan ekspansi dengan menambah lini bisnis lewat membangun pabrik produksi tanaman cokelat. Diversifikasi lini bisnis ini dinilai akan memberi dampak positif karena akan mengurangi risiko eksposur dari volatilitas harga Crude Palm Oil (CPO) pada pendapatan SIMP.

Salah satu katalis positif untuk SIMP datang dari tren kenaikan harga CPO belakangan ini.

Menurut Sukarno, kenaikan harga sawit memang cukup membantu kinerja SIMP, namun lini bisnis perkebunan SIMP hanya berkontribusi terhadap pendapatan sebesar 25%. 

Sementara, 75% sisanya justru merupakan kontribusi dari minyak dan lemak nabati. Ia bilang, kondisi pelemahan daya beli masyarakat saat ini berpotensi mempengaruhi permintaan terhadap minyak dan lemak nabati tersebut.

“Jadi, sembari menunggu permintaan tersebut kembali pulih, SIMP harus mampu menekan cost agar kerugian bisa turun, bahkan kembali laba. Namun, harus diperhatikan juga beban utang yang dimiliki SIMP bisa menjadi faktor penghambat kinerjanya,” sambung Sukarno.

Kendati demikian, Sukarno menilai, secara valuasi harga SIMP saat ini sudah tergolong undervalue jika dilihat dari sisi PBV yang berada di 0,36x atau masih di bawah 1x. Rata-rata PBV 5 tahun di 0,5x. Artinya harga wajar SIMP bisa berada di 440. Oleh karena itu, untuk jangka panjang, ia merekomendasikan buy atau trading buy untuk SIMP.

Selanjutnya: Salim Ivomas Pratama (SIMP) alokasikan belanja modal untuk hal ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi