Aksi Rights Issue Masih Bergulir, Strategi Emiten Kian Beragam



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rights issue masih menjadi salah satu alternatif penghimpunan dana emiten pada tahun ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat aktivitas tersebut tetap bergulir dengan tujuan yang semakin beragam antar emiten

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia Saidu Solihin menyampaikan per 31 Juli 2026, sebanyak 15 emiten telah melaksanakan rights issue dengan total nilai mencapai Rp 15,85 triliun

Salah satunya, yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang sudah menuntaskan agenda rights issue. Di mana, dana hasil dari rights issue disalurkan BNBR kepada anak usahanya PT Bakrie Toll Indonesia senilai Rp 4,36 triliun. xa


Baca Juga: Bea Masuk LPG 0% Jadi Sentimen Positif, Dampaknya ke Emiten Petrokimia Terbatas

“Serta masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue, yang berasal dari sektor properti dan real estat,” jelasnya, Jumat (31/7). 

Sejumlah emiten juga mulai mengumumkan rencana rights issue pada akhir Juli 2026. Di antaranya PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV), PT Fortune Indonesia Tbk (FORU), dan PT Widodo Makmur Perkasa Tbk (WMPP).   

Melansir prospektunya, MGLV berencana menerbitkan maksimal 285,73 juta saham baru. Dana segar hasil rights issue akan digunakan untuk beberapa hal, tetapi utamanya untuk ekspansi. 

Rinciannya, MGLV akan melunasi pengambilalihan PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAI Center, pembayaran lebih awal utang kepada PT Nextier Datamate Center serta modal kerja dan belanja modal untuk pengembangan bisnis data center.

Sementara itu, FORU menempuh rights issue melalui skema inbreng saham PT Borneo Prima dengan menerbitkan 215,10 miliar saham di harga Rp 126 per saham. Dus, nilai aksi korporasi tersebut berpotensi mencapai Rp 27,10 triliun. 

Kemudian untuk WMPP menawarkan maksimal 8,47 miliar saham baru dengan potensi dana segar 635,45 miliar. Sebagian besar pelaksanaannya rights issue WMPP dilakukan melalui konversi utang.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai rights issue pada 2026 menunjukkan emiten semakin selektif dalam memanfaatkan aksi korporasi tersebut, tidak lagi sekadar mencari tambahan modal.

"Menurut saya, tren rights issue pada 2026 menunjukkan bahwa emiten menggunakan aksi korporasi ini dengan tujuan yang lebih selektif dibanding sekadar mencari tambahan modal," kata Nafan kepada Kontan, Jumat (31/7). 

Menurut Nafan, rights issue MGLV lebih mencerminkan pendanaan ekspansi, FORU berfokus pada transformasi korporasi melalui inbreng saham, sedangkan WMPP mengutamakan perbaikan struktur permodalan melalui konversi utang menjadi saham.

"Investor perlu melihat tujuan penggunaan dana, kualitas aset yang diperoleh, serta kemampuan rights issue tersebut meningkatkan profitabilitas di masa depan," ucapnya. 

Baca Juga: Harga Emas Turun, WGC Mencatat Minat Investasi Emas di Kuartal II-2026 Melempem

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News