Aktivitas Bisnis Inggris Menguat, Cetak PMI Tertinggi Empat Bulan



KONTAN.CO.ID - LONDON. Aktivitas bisnis sektor swasta Inggris menguat pada Agustus 2026. Perbaikan terutama ditopang sektor jasa yang mencatat pertumbuhan lebih kuat dari perkiraan, sementara sektor manufaktur mulai kehilangan momentum.

S&P Global mempublikasikan, Jumat (21/8/2026), data awal Indeks PMI Output Komposit Inggris naik menjadi 52,5 pada Agustus. Di Juli, indeks ini berada di level 52,2.

Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam empat bulan. Indeks yang berada di atas level 50 menandakan ekspansi aktivitas bisnis.


Penguatan terutama berasal dari sektor jasa. Data awal Indeks Aktivitas Bisnis PMI Sektor Jasa Inggris meningkat menjadi 52,8 di Agustus, dari 52,1 pada Juli.

Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam enam bulan. Realisasi tersebut juga melampaui ekspektasi pasar yang memperkirakan indeks sektor jasa akan merosot ke 51,8.

Baca Juga: Data Awal PMI, Aktivitas Industri di Kawasan Zona Euro Menguat di Agustus

Sebaliknya, sektor manufaktur mengalami perlambatan. Data awal PMI sektor manufaktur Inggris di Agustus turun menjadi 51,5, dari 51,9 pada Juli. Ini sekaligus menjadi level terendah dalam lima bulan.

Perlambatan tersebut antara lain mencerminkan berkurangnya aktivitas penimbunan persediaan yang sebelumnya dilakukan perusahaan sebagai langkah antisipasi terhadap risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Chief Business Economist S&P Global Market Intelligence Chris Williamson mengatakan, ekonomi Inggris menunjukkan penguatan pada Agustus. “Ekonomi Inggris sedikit meningkatkan lajunya pada Agustus, menambah tanda-tanda bahwa kita akan melihat pertumbuhan ekonomi yang solid sekitar 0,3% pada kuartal III,” papar dia dalam rilis resmi, Jumat (21/8/2026).

Williamson mengatakan pertumbuhan tersebut terbantu oleh cuaca yang cerah dan investasi teknologi. “Meski seperti yang diperkirakan, kami melihat pertumbuhan sektor manufaktur sedikit melunak karena penumpukan persediaan untuk berjaga-jaga mulai mereda,” imbuh dia.

Baca Juga: Penjualan Ritel Inggris Turun di Juli 2026, Usai Melonjak Saat Gelaran Piala Dunia

Menurut Williamson, membaiknya kondisi ekonomi juga mencerminkan meredanya kekhawatiran dunia usaha terhadap dampak ekonomi konflik di Timur Tengah. Optimisme perusahaan sektor jasa pada Agustus bahkan mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan.

Namun, tekanan biaya masih menjadi perhatian. Indeks harga input dan harga output dalam survei PMI kembali meningkat setelah turun pada Juli. Kenaikan tersebut terutama mencerminkan peningkatan harga energi global dalam beberapa pekan terakhir di tengah belum berakhirnya konflik di Timur Tengah.

Di pasar tenaga kerja, penurunan jumlah pekerja di sektor jasa masih berlanjut. Meski demikian, laju pengurangan tenaga kerja merupakan yang paling lambat sejak Oktober tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap pasar kerja mulai mereda seiring membaiknya aktivitas bisnis.

Williamson menilai kondisi tersebut membuat Bank of England masih cenderung mempertahankan sikap hawkish, tetapi tetap berhati-hati. “Bank of England kemungkinan akan mempertahankan bias hawkish, tetapi tetap berhati-hati dan menunda kenaikan suku bunga sampai arah pertumbuhan dan inflasi menjadi lebih jelas.”

Secara keseluruhan, hasil survei memberikan sinyal bahwa ekonomi Inggris memasuki kuartal III dengan pijakan yang lebih kuat. S&P Global memperkirakan tingkat aktivitas yang tercermin dalam PMI tersebut konsisten dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,3% secara kuartalan pada kuartal III-2026.

Meski demikian, risiko geopolitik dan tekanan biaya energi masih menjadi tantangan. Dunia usaha juga masih menghadapi ketidakpastian terkait kebijakan domestik, sehingga pemulihan ekonomi Inggris belum sepenuhnya terbebas dari risiko perlambatan.