Aktivitas industri China mengangkat tembaga



JAKARTA. Sinyal perbaikan ekonomi China membuat harga tembaga bangkit. Namun, prospek tembaga tahun depan masih terlihat suram seiring dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi negeri Tiongkok.

Mengutip Bloomberg, Senin (14/12) pukul 12.27 WIB, harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange naik 0,2% dari penutupan akhir pekan lalu di US$ 4.713,5 per metrik ton. Dalam sepekan terakhir, tembaga meningkat 3,43%.

Kenaikan harga tembaga seiring dengan naiknya data produksi sektor industri China bulan November 2015 sebesar 6,2% atau berada di atas proyeksi 5,7% serta angka bulan lalu 5,6%. Data tersebut menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pertumbuhan di China.


Pengamat Komoditas SoeGee Futures, Ibrahim mengatakan, harga tembaga telah mengalami penurunan setelah The Fed mengumumkan rencana kenaikan suku bunga. Perlambatan ekonomi global yang menekan permintaan semakin menyeret harga tembaga.

Kini, saat kepastian suku bunga The Fed semakin besar, harga tembaga dapat bangkit kembali. Rencana pemangkasan produksi tembaga menambah sentimen positif bagi pergerakan harga."Saat spekulasi berkurang, dollar AS kembali melemah sehingga mengangkat komoditas termasuk tembaga," papar Ibrahim.

Masuknya yuan ke dalam keranjang Special Drawing Rights (SDR) Dana Moneter Internasional (IMF) menambah semangat pada pergerakan ekonomi China. Meski demikian, Ibrahim mengatakan, China masih perlu memberikan stimulus moneter untuk mengangkat ekonomi.

JIka The Fed akhirnya menaikkan suku bunga, Ibrahim memprediksi nilai tukar dollar AS justru akan terus melemah. Pasalnya, dollar AS sudah menguat cukup tajam saat spekulasi kenaikan suku bunga meningkat. Untuk itu, akhir tahun ini Ibrahim memproyeksi harga tembaga bisa menuju US$ 5.000 per metrik ton.

"Baik Eropa, China, maupun Jepang terus memberikan stimulus ekonomi sehingga akan mengangkat tembaga," imbuhnya.

Lalu, tahun depan harga bisa kembali tergerus mengingat prospek ekonomi China yang tidak terlalu bagus. Baik pemerintah China maupun IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Negeri Panda hanya sebesar 6,5% di tahun 2016 atau lebih rendah dari proyeksi tahun ini sekitar 6,8%.

Berdasarkan survei analis yang dilakukan Bloomberg, harga tembaga diprediksi tergerus hingga US$ 4.014 per metrik ton tahun depan. Paul Christopher, kepala strategi pasar global Wells Fargo Investment Institute menyatakan, pemangkasan produksi untuk logam industri termasuk tembaga tak sebesar komoditas energi, sementara kelebihan pasokan bisa bertahan lebih lama. Sedangkan Goldman memprediksi surplus tembaga akan terjadi hingga 2020.

Ibrahim menilai, wajar jika permintaan tembaga berkurang di tahun 2016. Pada kuartal pertama tahun depan, pertumbuhan ekonomi akan lebih lambat mengingat sebagian belahan dunia memasuki musim dingin sehingga membuat produktivitas berkurang. Imbasnya permintaan logam tembaga juga akan berkurang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News