KONTAN.CO.ID - BEIJING. Aktivitas sektor jasa China tumbuh lebih cepat pada April, didorong peningkatan bisnis baru terutama dari permintaan domestik. Meski demikian, permintaan dari luar negeri masih menunjukkan pelemahan. Melansir
Reuters Rabu (6/5/2026), survei swasta menunjukkan indeks manajer pembelian (PMI) sektor jasa China versi S&P Global naik menjadi 52,6 pada April, dari 52,1 pada Maret. Angka ini tetap berada di atas ambang batas 50 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.
Baca Juga: Inflasi Korsel Dekati Level Tertinggi 2 Tahun, Peluang Kenaikan Suku Bunga Menguat Hasil ini berbeda dengan survei resmi pemerintah yang dirilis pekan lalu, yang menunjukkan sektor jasa kembali mengalami kontraksi. Perbedaan tersebut disebabkan oleh cakupan sampel yang tidak sama. Di tengah penguatan sektor jasa, perekonomian China secara umum masih menghadapi tekanan. Kinerja ekspor mulai melemah, sementara penjualan ritel dan output industri menunjukkan perlambatan. Selain itu, harga produsen yang mulai keluar dari fase deflasi panjang justru berpotensi menekan margin perusahaan, terutama di tengah permintaan yang masih lemah dan keterbatasan dalam menaikkan harga jual. Risiko eksternal juga turut membayangi. Konflik di Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian terhadap permintaan global dan rantai pasok, yang dapat semakin menggerus profitabilitas perusahaan China.
Baca Juga: Rekor! Samsung Jadi Perusahaan Asia Kedua dengan Kapitalisasi Pasar US$ 1 Triliun Secara rinci, pertumbuhan bisnis baru pada April meningkat dengan didorong permintaan domestik. Namun, pesanan ekspor baru tercatat menurun untuk bulan kedua berturut-turut, meski dalam skala yang terbatas. Di sisi tenaga kerja, perusahaan jasa kembali mengurangi jumlah karyawan untuk bulan ketiga berturut-turut, dengan alasan pensiun, pengunduran diri, serta upaya efisiensi biaya. Sementara itu, tekanan biaya input meningkat ke level tertinggi sepanjang tahun ini, seiring kenaikan harga minyak, bahan bakar, dan biaya logistik akibat konflik di Timur Tengah.
Meski demikian, perusahaan tetap menurunkan harga jual untuk bulan kedua guna menarik dan mempertahankan pelanggan. Ke depan, pelaku usaha masih optimistis terhadap prospek bisnis dalam satu tahun mendatang.
Baca Juga: Bursa Asia Cetak Rekor Rabu (6/5), Euforia AI dan Harapan Damai Iran Angkat Sentimen Adapun indeks komposit output, yang menggabungkan sektor manufaktur dan jasa, naik menjadi 53,1 pada April dari 51,5 pada Maret, menandakan aktivitas ekonomi secara keseluruhan masih berada di zona ekspansi.