Aktivitas Jasa Jepang Ekspansi Lima Bulan Beruntun, PMI Oktober Naik ke 51,7



KONTAN.CO.ID - Aktivitas sektor jasa Jepang melanjutkan ekspansi selama lima bulan berturut-turut pada Oktober 2026.

Kenaikan aktivitas bisnis dan pesanan baru menjadi penopang pertumbuhan, meskipun optimisme pelaku usaha justru melemah di tengah tekanan inflasi dan keterbatasan tenaga kerja.

Berdasarkan survei S&P Global yang dirilis Kamis (5/11/2026), indeks Purchasing Managers' Index (PMI) jasa Jepang tercatat sebesar 51,7 pada Oktober, naik dari 51,3 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 mencerminkan kontraksi.


Baca Juga: BOJ Buka Peluang Percepat Kenaikan Suku Bunga, Waspadai Inflasi Jepang

Meski meningkat, capaian tersebut masih lebih rendah dibandingkan pembacaan awal atau flash PMI sebesar 52,0.

Pesanan baru sektor jasa juga meningkat selama 28 bulan berturut-turut. Laju pertumbuhannya bahkan lebih cepat dibandingkan September, didorong oleh permintaan domestik yang lebih kuat, penambahan pelanggan baru, serta upaya perusahaan mengembangkan bisnis.

Namun, permintaan dari pasar luar negeri masih menunjukkan pelemahan. Meski demikian, penurunan pesanan ekspor baru melambat ke level paling rendah sejak April.

Dari sisi biaya, tekanan inflasi input kembali mereda. Laju kenaikan harga input melambat selama empat bulan berturut-turut dan mencapai level terendah dalam delapan bulan terakhir.

Baca Juga: Bank of England Diperkirakan Naikkan Suku Bunga ke 4%, Pertama dalam Tiga Tahun

Inflasi harga output atau tarif yang dikenakan perusahaan kepada pelanggan juga melambat. Kendati demikian, harga jual sektor jasa Jepang masih mencatatkan kenaikan setiap bulan selama empat setengah tahun terakhir.

Associate Director Economics S&P Global Market Intelligence Annabel Fiddes mengatakan, tekanan inflasi yang berkelanjutan berpotensi membatasi permintaan dan perekrutan tenaga kerja dalam beberapa bulan mendatang.

Menurut dia, perkembangan pertumbuhan ekonomi dan meredanya tekanan biaya akan menjadi pertimbangan penting bagi Bank of Japan (BOJ) dalam mengevaluasi peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Di sisi lain, tingkat kepercayaan bisnis melemah ke posisi terendah sejak Maret. Kekhawatiran terhadap inflasi, penuaan populasi, dan kekurangan tenaga kerja mengurangi optimisme pelaku usaha.

Baca Juga: Legenda Tenis Rafael Nadal Bersedia Gabung Dewan Direksi Real Madrid

Padahal, peluang pertumbuhan di sektor pertahanan dan teknologi, rencana ekspansi bisnis, serta peningkatan pariwisata sebelumnya menjadi faktor yang menopang optimisme perusahaan.

Survei tersebut juga menunjukkan, penyerapan tenaga kerja hanya meningkat tipis pada Oktober. Pertumbuhan lapangan kerja ini menjadi yang terlemah dalam periode perekrutan selama 14 bulan berturut-turut.

Sejumlah perusahaan menyebut rencana ekspansi bisnis mendorong penambahan karyawan. Namun, pengunduran diri dan pensiun membatasi pertumbuhan jumlah tenaga kerja secara keseluruhan.

Sementara itu, indeks output gabungan Jepang yang mencakup sektor manufaktur dan jasa turun menjadi 52,1 pada Oktober dari 52,3 pada September. Angka tersebut mencerminkan laju pertumbuhan terlemah sejak Mei, seiring penguatan aktivitas jasa yang diimbangi perlambatan output manufaktur.