KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali menunjukkan peningkatan signifikan di tengah meredanya ketegangan geopolitik dan kemajuan pembicaraan Amerika Serikat–Iran. Data pelacakan kapal menunjukkan mulai pulihnya arus minyak dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk, termasuk pergerakan kapal tanker yang sebelumnya sempat terjebak akibat konflik. Dua supertanker pengangkut minyak mentah yang sempat terhenti dilaporkan telah melintasi Selat Hormuz pada Selasa. Selain itu, tujuh kapal LNG milik Qatar yang sebelumnya kosong juga telah memasuki wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir, menjadi indikasi awal dimulainya kembali aktivitas pengiriman gas dari kawasan Teluk.
Kapal Minyak Kembali Bergerak di Jalur Vital Dunia
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa kapal-kapal yang terkait Iran juga terus melintasi Selat Hormuz, dengan aktivitas yang meningkat sejak Senin. Peningkatan ini terjadi seiring kemajuan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang menghasilkan kesepakatan awal mengenai peta jalan menuju perjanjian permanen dalam 60 hari.
Baca Juga: Minyak Iran Kembali ke Pasar: Asia Hati-hati, China Berpotensi Jadi Pembeli Utama Kesepakatan tersebut juga diikuti keputusan Washington memberikan keringanan sanksi hingga 21 Agustus, yang meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global dan turut menekan harga minyak dunia. Sejumlah kapal tanker minyak mentah yang sebelumnya terjebak di Teluk akibat konflik diperkirakan kini mulai dapat meninggalkan wilayah tersebut.
Pengiriman Minyak dari Asia dan Timur Tengah Kembali Normal
Beberapa kapal tanker besar juga telah berhasil keluar dari Selat Hormuz membawa minyak mentah dari produsen utama Timur Tengah. Salah satunya adalah VLCC Dubai Energy yang mengangkut sekitar 2 juta barel minyak dari Abu Dhabi dan Arab Saudi menuju Taiwan. Kapal lain, Universal Glory, yang disewa oleh kilang Korea Selatan GS Caltex, juga tercatat meninggalkan Selat Hormuz dengan muatan minyak Saudi dalam jumlah serupa. Selain itu, dua kapal jenis Suezmax yang masuk dalam daftar sanksi juga terpantau bergerak menuju selat, masing-masing mampu mengangkut sekitar 1 juta barel minyak.
Aktivitas LNG Qatar Mulai Pulih
Sektor gas alam cair (LNG) juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Tercatat tujuh kapal LNG kosong yang dioperasikan QatarEnergy telah bergerak menuju Teluk untuk kembali melakukan pengisian kargo sejak 11 hingga 22 Juni. Pergerakan ini menjadi yang pertama sejak ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada Februari lalu. Menurut analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, pergerakan ini merupakan sinyal kuat bahwa ekspor LNG Qatar kembali berjalan sesuai rencana. “Data pelacakan kapal memperkuat ekspektasi bahwa QatarEnergy akan memenuhi jadwal peningkatan produksi LNG mereka,” kata Dhar.
Baca Juga: Pasar Mobil Eropa Tumbuh 3,6% pada Mei 2026, Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Pemulihan Bertahap dan Risiko yang Masih Ada
Meski aktivitas mulai pulih, analis menilai bahwa pengiriman kapal dari Qatar dan perusahaan energi Abu Dhabi masih dilakukan secara hati-hati. Belum terlihat pergerakan besar kapal kosong secara serentak menuju Teluk, yang menandakan strategi pemulihan bertahap masih diterapkan. Selain itu, faktor risiko seperti keamanan pelayaran, kepercayaan perusahaan asuransi, serta implementasi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi penentu utama stabilitas ekspor LNG di kawasan tersebut. Sementara itu, insiden ledakan di fasilitas pemrosesan gas di kompleks industri Ras Laffan pada Senin disebut tidak berdampak pada operasi utama LNG Qatar, menurut pernyataan pejabat energi setempat.