KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur China masih mencatat ekspansi pada Mei 2026, menandai pertumbuhan selama enam bulan berturut-turut. Namun, laju pertumbuhan sektor tersebut mulai melambat seiring melemahnya pesanan baru dan tekanan permintaan global.
Baca Juga: Harga Rumah Australia Mandek pada Mei, Kenaikan Suku Bunga Mulai Tekan Pasar Properti Berdasarkan survei swasta yang dirilis RatingDog China General Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) dan disusun oleh S&P Global pada Senin (1/6/2026), indeks PMI manufaktur China berada di level 51,8 pada Mei, turun dari 52,2 pada April. Meski melambat, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis sebesar 51,6 dan tetap berada di atas ambang batas 50 yang memisahkan fase ekspansi dan kontraksi. Pendiri RatingDog Yao Yu mengatakan, sektor manufaktur China secara keseluruhan masih mempertahankan tren ekspansi meskipun kecepatannya mulai berkurang. "Secara keseluruhan, sektor manufaktur tetap bertumbuh pada Mei, meski dengan laju yang lebih lambat. Meredanya tekanan inflasi memberikan ruang bagi perusahaan dalam mengelola biaya produksi dan penetapan harga," ujar Yao Yu.
Baca Juga: Lowongan Kerja Australia Naik 1,8% pada Mei, Permintaan Tenaga Kerja Masih Tangguh Produksi dan Pesanan Baru Masih Tumbuh Survei menunjukkan produksi manufaktur meningkat selama enam bulan berturut-turut, terutama ditopang oleh sektor barang investasi. Perusahaan melaporkan peningkatan aktivitas produksi didorong oleh:
- Permintaan pasar yang lebih kuat
- Bertambahnya pesanan baru
- Perbaikan produk
- Masuknya pelanggan baru
Baca Juga: Belanja Modal Perusahaan Jepang Nyaris Mandek pada Kuartal I 2026, Apa Penyebabnya? Pesanan baru juga tumbuh untuk bulan ke-12 berturut-turut. Namun, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan April. Di sisi lain, pesanan ekspor baru justru mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal awal bahwa kenaikan harga energi mulai menekan permintaan global terhadap produk-produk China. Tekanan Harga Mulai Mereda Kabar positif datang dari sisi inflasi sektor manufaktur. Tekanan biaya produksi maupun harga jual mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. Inflasi biaya input melambat untuk pertama kalinya dalam enam bulan dan turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 2% Senin (1/6) Pagi: Brent ke US$ 93,28 & WTI ke US$ 89,73 Sementara itu, inflasi harga output juga melemah untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir. Meski demikian, harga jual produk manufaktur masih tumbuh di atas rata-rata historis jangka panjang. Produsen barang antara mencatat kenaikan harga jual tercepat, sedangkan produsen barang konsumsi mengalami kenaikan paling lambat. Lapangan Kerja Menyusut Di tengah pertumbuhan produksi dan pesanan, perusahaan manufaktur tetap berhati-hati dalam merekrut tenaga kerja. Indeks ketenagakerjaan turun ke level terendah dalam lima bulan dan tetap berada di bawah angka 50, yang mengindikasikan pengurangan jumlah pekerja. Pada saat yang sama, tumpukan pesanan yang belum terselesaikan meningkat untuk bulan keempat berturut-turut akibat kombinasi pertumbuhan permintaan dan keterlambatan pasokan.
Baca Juga: Dolar Stabil Senin (1/6), Menanti Kepastian Konflik Iran dan Arah Suku Bunga The Fed Optimisme Tetap Terjaga Meski menghadapi tantangan dari permintaan eksternal yang melemah, produsen China masih optimistis terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan. Namun tingkat keyakinan pelaku usaha turun dibandingkan bulan sebelumnya dan hanya sejalan dengan rata-rata optimisme sepanjang 2026. Menurut Yao Yu, perlambatan pertumbuhan permintaan domestik dan melemahnya pesanan dari luar negeri menjadi risiko utama yang perlu dicermati dalam beberapa bulan mendatang.