Akuisisi Kilang Minyak Topang Kinerja TPIA di Tengah Tekanan Petrokimia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Transformasi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi platform energi terintegrasi membuahkan hasil positif bagi kinerja keuangan perusahaan.

Penguatan marjin kilang minyak hasil akuisisi berhasil menutupi lesunya bisnis petrokimia yang masih dibayangi tekanan pasokan global.

Kinerja TPIA pada kuartal II-2026 mencatatkan pembalikan arah menjadi laba bersih US$ 137 juta dari posisi rugi pada periode yang sama tahun sebelumnya.


Secara berturut-turut, pendapatan perusahaan pada kuartal II-2026 tumbuh 23% secara kuartalan menjadi US$ 2,94 miliar.

Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Lemah, Kinerja Emiten Properti Lesu Sepanjang Semester I 2026

Realisasi pendapatan tersebut juga melonjak 29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 2,29 miliar.

Capaian perbaikan kinerja keuangan ini disokong penuh oleh kontribusi unit bisnis kilang minyak Aster di Singapura.

Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia Arnanto Januri mencatat unit kilang minyak Aster menyumbang pendapatan operasional sebesar US$ 341 juta atau melonjak 148% secara tahunan.

"Bisnis kilang minyak (Aster) tetap sangat menguntungkan pada kuartal II-2026," kata Arnanto dalam risetnya, (29/7/2026).

Arnanto menambahkan bahwa tingginya marjin kilang minyak ini didorong oleh konflik di Timur Tengah.

Sebaliknya, segmen bisnis petrokimia TPIA masih menghadapi tantangan operasional yang cukup berat.

Namun, nilai kerugian operasional segmen petrokimia tersebut berhasil ditekan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

"Bisnis petrokimia tetap berada di wilayah rugi pada kuartal II-2026, tetapi menyempit menuju titik impas dibandingkan dengan kerugian kuartal I-2026," ujar Arnanto.

Pada kuartal II-2026, kerugian EBIT segmen petrokimia menyempit menjadi US$ 21 juta dari kerugian US$ 148 juta di kuartal I-2026.

 
TPIA Chart by TradingView

Perubahan quarter-on-quarter (QoQ) menandakan adanya perbaikan atau penurunan tingkat kerugian hingga 86%.

Capaian tersebut mengindikasikan bahwa meskipun segmen petrokimia masih berada di zona merah, tekanan operasional TPIA telah berkurang secara signifikan dan perusahaannya kian mendekati posisi impas (breakeven).

Di sisi lain, transformasi TPIA dari sekadar produsen petrokimia menjadi platform energi tidak lepas dari serangkaian akuisisi bernilai besar.

Perusahaan mengakuisisi kompleks kilang minyak Aster yang menambah kapasitas petrokimia hingga dua kali lipat menjadi 9,0 juta ton per tahun.

Selain itu, TPIA juga membeli jaringan SPBU bermerek Esso di Singapura senilai US$ 1 miliar.

Rangkaian aksi korporasi tersebut memicu peningkatan total utang perusahaan hingga US$ 3 miliar pada 2025.

Dampaknya, rasio utang bersih (net gearing) TPIA merangkak naik ke level sekitar 50% pada 2025.

Kendati rasio utang meningkat, kondisi keuangan TPIA dinilai tetap terkendali dan terukur.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim menjelaskan, beban tersebut sanggup dimitigasi oleh arus kas operasional.

"Keuntungan tak terduga dari margin kilang minyak diharapkan dapat meredakan kekhawatiran mengenai tingkat utang TPIA yang tinggi menyusul ekspansi melalui akuisisi yang baru saja dilakukan," terang Kevin dalam risetnya, (29/7/2026).

Kevin menambahkan bahwa rasio kecukupan EBITDA terhadap beban bunga bersih TPIA berada pada kisaran aman 6 kali untuk periode 2026-2028.

Baca Juga: Didukung Fundamental Kuat, Prospek Dolar Masih Terjaga

Profil jatuh tempo utang TPIA juga tergolong sangat teratur dalam jangka panjang.

Pembayaran utang terjadwal paling besar baru akan jatuh tempo pada tahun 2028 sebesar US$ 600 juta dan tahun 2031 sebesar US$ 1,0 miliar.

Seiring rampungnya proyek ekspansi utama, arus kas bebas TPIA diproyeksikan berbalik positif mulai tahun 2027.

Penguatan bisnis TPIA turut didukung oleh lini infrastruktur di bawah anak usahanya, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA).

Lini bisnis infrastruktur ini mencakup aset ketenagalistrikan, pengolahan air, pelabuhan, hingga logistik maritim.

Pada kuartal II-2026, pendapatan segmen petrokimia TPIA tercatat sebesar US$ 1,50 miliar.

Sementara itu, pendapatan segmen kilang minyak menyumbang US$ 1,87 miliar pada periode yang sama.

Baca Juga: Gunung Raja Paksi (GGRP) Raup Laba Bersih US$ 1,84 Juta pada Semester I-2026

Secara keseluruhan, EBITDA TPIA pada kuartal II-2026 mencapai US$ 292 juta.

Melihat prospek tersebut, Kevin Halim merekomendasikan buy untuk saham TPIA dengan target harga Rp 2.600 per saham.

Di sisi lain, Arnanto Januri menyematkan rekomendasi netral untuk saham TPIA dengan target harga Rp 1.960 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News