KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten rumah sakit, khususnya PT Siloam International Hospitals Tbk (
SILO), dinilai masih menarik dikoleksi pada 2026. Aksi ekspansi melalui akuisisi menjadi salah satu katalis utama yang menopang prospek kinerja perseroan ke depan. Perlu diketahui, SILO, emiten konglomerasi dari Mochtar Riady ini baru saja mengumumkan rencana akuisisi saham pada 14 perusahaan pemilik properti rumah sakit dengan nilai total mencapai sekitar Rp 9 triliun sebagai bagian dari strategi ekspansi bisnis. Ada pun rincian akuisisi dilakukan sekitar Rp 5,12 triliun untuk tahap pertama dan Rp 3,88 triliun untuk tahap kedua.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengungkapkan langkah SILO dalam melakukan akuisisi rumah sakit ini diyakini dapat mendorong peningkatan margin operasional.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,16% ke Bawah 7.000 di Pagi Ini (6/4), Top Losers LQ45: DSSA, BREN, BRPT “Akuisisi tersebut berpotensi meningkatkan EBITDA margin,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (2/4/2026). Menurut Nafan, tambahan aset dari aksi korporasi ini juga akan mendongkrak nilai aset bersih atau
net asset value (NAV) SILO. Terlebih, rumah sakit yang diakuisisi berada di lokasi strategis sehingga membuka peluang ekspansi bisnis yang lebih optimal. Dengan kepemilikan penuh atas aset, SILO kini memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menjalankan strategi bisnis. Hal ini dinilai menjadi keunggulan tersendiri untuk meningkatkan kinerja jangka panjang. Namun, ia mengingatkan bahwa ekspansi tersebut juga membawa konsekuensi berupa kenaikan beban, terutama dari sisi biaya utang (
cost of debt). Kondisi ini tidak terlepas dari tren suku bunga tinggi yang masih berlangsung (
higher for longer). “Memang ada beban tambahan seperti capex untuk maintenance, pajak bumi dan bangunan, serta asuransi aset,” jelas dia. Meski demikian, Nafan menilai dampak negatif tersebut masih dapat diimbangi oleh potensi efisiensi dan peningkatan pendapatan dari aset baru. Dari sisi makro, pelemahan nilai tukar rupiah justru membuka peluang bagi SILO. Biaya layanan kesehatan di Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan seperti Singapura dan Malaysia, sehingga berpotensi menarik pasien dari luar negeri. Sebagai rumah sakit premium, SILO dinilai memiliki posisi yang kuat untuk menangkap peluang tersebut, terlebih dengan komitmen perseroan dalam meningkatkan standar layanan sesuai standar internasional.
Selain itu, ekspansi pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa juga menjadi peluang tambahan bagi SILO untuk memperluas jaringan rumah sakitnya. Dengan berbagai katalis tersebut, Nafan merekomendasikan saham SILO dapat dikoleksi investor, untuk add dengan target harga Rp 3.170 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News