KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) masih memiliki sejumlah katalis untuk menopang kinerja hingga akhir 2026. Ekspansi melalui akuisisi Sports Direct Malaysia menjadi salah satu pendorong yang dicermati investor. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan secara fundamental kinerja MAPA masih solid. Pada semester I-2026, pendapatan MAPA mencapai sekitar Rp 10,12 triliun atau tumbuh 15,1% secara tahunan (YoY). Sementara itu, laba bersih meningkat 30,5% YoY menjadi Rp 864,4 miliar. Dari sisi ekspansi, MAPA melalui anak usahanya, Athletica International Holdings Pte. Ltd. (AIH), telah menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi seluruh saham Sports Direct Malaysia Sdn. Bhd. (SDM) dengan nilai sekitar Rp 2,5 triliun.
Manajemen menyampaikan, strategi ini terutama untuk memperluas operasional toko dengan jenama Sports Direct dan USC di luar Indonesia. Menurut Nafan, aksi korporasi tersebut dapat menjadi katalis pertumbuhan jangka menengah. Akuisisi berpotensi memperkuat eksposur MAPA di pasar ASEAN sekaligus menambah kontribusi pendapatan dan laba dari bisnis regional.
Baca Juga: Laba MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) Melonjak 30%, Pendapatan Tembus Rp 10,12 Triliun "Prospek MAPA hingga akhir 2026 masih cukup positif, meskipun investor perlu mencermati risiko nilai tukar dan daya beli domestik," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (29/09/2026). Sejalan dengan itu, Analis Sinarmas Sekuritas Vita Lestari, mencermati bahwa manajemen semakin memprioritaskan produktivitas gerai dan efisiensi modal dibandingkan ekspansi jaringan secara agresif. Dicatatnya di tingkat MAPI Group, sekitar Rp 2 triliun belanja modal (capex) direncanakan pada 2026. Lebih dari 200 gerai telah dibuka pada 1Q26, sementara target pembukaan gerai baru sepanjang FY26 mencapai 550-600 gerai. Menurut Vita, untuk jangka menengah sebenarnya peningkatan produktivitas gerai, penetrasi omni-channel, serta leverage operasional akan semakin penting sebagai pendorong pertumbuhan laba. “Kami memperkirakan MAPA akan menerapkan pendekatan yang sama secara lebih terukur, terutama di pasar luar negeri. Fokus akan diarahkan pada merek yang telah terbukti, lokasi yang menarik, serta keekonomian gerai,” jelas Vita. Ada pun Vita juga mencatat operasi domestik masih tetap menjadi mesin pertumbuhan utama MAPA, dengan pendapatan mencapai Rp7,7 triliun atau meningkat 17,0% YoY pada semester I 2026. Kontribusinya sekitar 76% terhadap total pendapatan konsolidasi. Pendapatan dari pasar luar negeri juga masih tumbuh positif, naik 9,4% YoY menjadi Rp2,4 triliun. Pertumbuhan terutama ditopang Filipina dengan pendapatan Rp1,2 triliun, meningkat 9% YoY. Thailand dan Vietnam mencatat pertumbuhan masing-masing 23% YoY dan 58% YoY. Namun, kontribusi Vietnam masih relatif kecil, yakni Rp165 miliar. Sementara itu, Singapura menjadi pasar yang paling lemah, dengan pendapatan turun 23% YoY menjadi Rp207 miliar. Lebih lanjut, Nafan melihat sejumlah katalis positif yang dapat menopang kinerja MAPA hingga akhir tahun, misalnya ekspansi jaringan dan merek olahraga maupun gaya hidup di kawasan ASEAN, pertumbuhan penjualan gerai yang sama (same-store sales), serta momentum musim belanja akhir tahun.
Baca Juga: Ekspansi Bisnis, MAP Aktif Adiperkasa (MAPA) Beli Sports Direct Rp 2,5 Triliun Potensi pemulihan konsumsi domestik turut menjadi faktor yang perlu dicermati. Pemerintah terus mengarahkan stimulus untuk menjaga daya beli, sementara ekonomi nasional pada semester I-2026 masih tumbuh 5,45%. Di sisi lain, sejumlah risiko masih membayangi. Pelemahan rupiah, kenaikan biaya operasional, serta risiko integrasi dan kebutuhan pendanaan setelah akuisisi menjadi sentimen yang perlu diperhatikan investor. Tak sampai situ saja, Analis CGS International Sekuritas Baruna Arkasatyo juga sependapat, bahwa risiko yang lebih bersifat struktural adalah menurunnya jumlah masyarakat berpendapatan menengah di Indonesia. Meski demikian, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat serta bauran produk MAPA diperkirakan akan memungkinkan perusahaan menangkap permintaan dari fenomena downtrading (konsumen beralih ke produk yang lebih terjangkau), sehingga menopang ketahanan pertumbuhan penjualannya. Dari sisi keuangan, kinerja MAPA diproyeksikan tetap tumbuh positif pada tahun 2026. Berdasarkan riset CGS International, pendapatan MAPA diperkirakan mencapai Rp 20,87 triliun pada 2026, naik 8,25% YoY dibandingkan realisasi pendapatan 2025 sebesar Rp 19,28 triliun. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih MAPA juga diproyeksikan meningkat. CGS International memperkirakan laba bersih MAPA pada 2026 mencapai Rp 1,87 triliun, tumbuh sekitar 9,70% YoY dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 1,70 triliun. Untuk strategi investasinya, Baruna memberikan rekomendasi kepada investor untuk add saham MAPA tapi dengan target harga diturunkan menjadi Rp 750 per saham, dari sebelumnya Rp 1.010 per saham.
Kemudian Vita memberikan rekomendasi untuk buy saham MAPA dengan target harga 12 bulan menjadi Rp 800 per saham. Namun Nafan, belum menyarankan investor untuk terburu-buru masuk ke saham MAPA. Ia memberikan rekomendasi wait and see terhadap saham MAPA.
Baca Juga: MAP Aktif (MAPA) Akuisisi Bisnis di Malaysia Rp 2,5 Triliun, Ini Dampaknya ke Saham Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News