Alarm Baru Ekonomi Jepang, Sektor Jasa Tersendat Akibat Lonjakan Biaya



KONTAN.CO.ID - Aktivitas sektor jasa Jepang nyaris tidak tumbuh pada Mei 2026 setelah menikmati ekspansi selama lebih dari satu tahun.

Lonjakan biaya operasional akibat konflik di Timur Tengah menekan permintaan jasa dan mendorong inflasi harga layanan ke level tertinggi dalam 12 tahun terakhir.

Baca Juga: Taiwan dan Korea Selatan Jadi Bintang Baru Bursa Asia, Ini Kata Goldman Sachs


Melansir Reuters berdasarkan survei swasta yang dirilis S&P Global pada Selasa (3/6/2026), indeks Purchasing Managers' Index (PMI) sektor jasa Jepang turun menjadi 50,0 pada Mei dari 51,0 pada April.

Angka tersebut menandai berakhirnya tren ekspansi selama 13 bulan berturut-turut. Dalam survei PMI, angka di atas 50 menunjukkan ekspansi aktivitas bisnis, sedangkan angka di bawah 50 menandakan kontraksi.

Perlambatan juga terlihat pada pertumbuhan bisnis baru yang melambat untuk bulan ketiga berturut-turut dan menjadi yang terlemah dalam hampir dua tahun terakhir.

Terutama, pesanan ekspor baru mengalami penurunan tajam dan mencatat kontraksi terbesar sejak Maret 2022.

Permintaan luar negeri yang melemah serta kenaikan harga menjadi faktor utama yang membebani penjualan jasa ke pasar internasional.

Baca Juga: SpaceX Targetkan Harga US$ 135 per Saham pada IPO, Berpotensi Raup Dana US$ 75 Miliar

Biaya Operasional Melonjak

Di sisi lain, tekanan biaya meningkat signifikan. Harga input tercatat naik pada laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun.

Menurut survei tersebut, kenaikan biaya terutama dipicu oleh melonjaknya harga bahan bakar, energi, dan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah.

Selain itu, kenaikan biaya tenaga kerja juga turut memperbesar beban operasional perusahaan jasa.

Sebagai respons, pelaku usaha menaikkan harga layanan kepada konsumen pada laju tercepat sejak April 2014, ketika Jepang menaikkan pajak konsumsi dari 5% menjadi 8%.

Associate Director Economics S&P Global Market Intelligence Annabel Fiddes mengatakan, tekanan harga mulai memengaruhi daya beli masyarakat.

"Kenaikan harga juga berdampak pada permintaan, terutama di sektor jasa, karena anggaran rumah tangga semakin tertekan," ujarnya.

Baca Juga: Iran Klaim Serang Markas Armada Kelima AS, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Perekrutan Melambat

Survei juga menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat ke level terendah dalam sembilan bulan terakhir.

Sejumlah perusahaan melaporkan bahwa pensiun dan pengunduran diri karyawan menjadi faktor yang membatasi ekspansi tenaga kerja.

Meski demikian, optimisme pelaku usaha terhadap prospek bisnis dalam 12 bulan mendatang sedikit membaik untuk bulan kedua berturut-turut.

Namun tingkat kepercayaan tersebut masih berada di bawah rata-rata pascapandemi karena ketidakpastian geopolitik, kenaikan biaya operasional, serta tantangan demografi yang terus membayangi perekonomian Jepang.

Baca Juga: Mythos, AI Penemu Celah Keamanan Siber yang Memikat Dunia, Bagaimana Indonesia?

Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Secara keseluruhan, PMI Komposit Jepang yang menggabungkan sektor manufaktur dan jasa juga turun menjadi 51,1 pada Mei dari 52,2 pada April.

Angka tersebut merupakan laju pertumbuhan paling lambat dalam lima bulan terakhir.

Fiddes menilai sektor manufaktur Jepang masih relatif kuat karena didorong aktivitas penumpukan persediaan (stock building). Namun, dukungan tersebut diperkirakan bersifat sementara.

"Sektor manufaktur saat ini sebagian terbantu oleh penumpukan stok yang bersifat sementara dan kemungkinan akan memudar setelah persediaan dianggap cukup, terutama jika kondisi ekonomi global tetap rapuh," jelasnya.

Data ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya akibat gejolak geopolitik mulai memberikan tekanan yang lebih luas terhadap perekonomian Jepang, khususnya pada sektor jasa yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan domestik.