KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kabar kurang baik datang dari daya saing Indonesia. Posisi Indonesia dalam IMD World Competitivenes 2026 merosot delapan peringkat menjadi posisi 48 dari 70 negara, setelah tahun lalu berada di peringkat 40. Penurunan ini menghapus tren positif yang sempat membawa Indonesia naik hingga peringkat 27 dunia pada 2024. Berdasarkan laporan tersebut, Indonesia menghadapi lima tantangan utama pada 2026. Tantangan tersebut meliputi meningkatnya konfrontasi ekonomi global yang mengancam ketahanan energi nasional.
Baca Juga: Perpres Stunting Berakhir pada 2024, BKKBN Akui Masih Menunggu Perpanjangan "Konfrontasi ekonomi global mengancam keamanan energi nasional," dikutip dari laporan IMD World Competitiveness Booklet 2026, Rabu (24/6). Selain itu, IMD juga menilai pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan, penyesuaian alokasi anggaran pemerintah, keterbatasan infrastruktur dan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta terbatasnya sumber pembiayaan juga menjadi tantangan pada 2026. Tak hanya secara global, posisi Indonesia juga melemah di tingkat regional. Di kawasan Asia Pasifik yang terdiri atas 15 negara, Indonesia turun dari peringkat 11 menjadi 14. Sementara di kelompok negara dengan jumlah penduduk di atas 20 juta jiwa, Indonesia turun dari posisi 16 menjadi 21 pada 2026. Dari empat pilar utama penilaian, kinerja ekonomi (
economic performance) masih menjadi kekuatan Indonesia dengan peringkat 24. Indikator harga bahkan berada di posisi 10 dunia, sementara ketenagakerjaan menempati peringkat 28. Namun, perdagangan internasional hanya berada di peringkat 50 dan investasi internasional di posisi 37. Pada aspek efisiensi pemerintah (
Government Efficiency), kebijakan pajak menjadi salah satu indikator terbaik dengan peringkat 12. Meski demikian, keuangan publik berada di posisi 25, kerangka kelembagaan di peringkat 50, regulasi bisnis di posisi 43, dan kerangka sosial di peringkat 54. Sementara itu, efisiensi bisnis (
Business Efficiency) masih menghadapi berbagai tantangan. Pasar tenaga kerja berada di peringkat 21, tetapi produktivitas dan efisiensi hanya menempati posisi 53.
Sektor keuangan berada di peringkat 51, praktik manajemen di posisi 55, serta indikator sikap dan nilai masyarakat di peringkat 53. Aspek yang paling menjadi pekerjaan rumah Indonesia adalah infrastruktur. Infrastruktur dasar berada di peringkat 42, infrastruktur teknologi di posisi 47, infrastruktur ilmiah di peringkat 48, sementara kesehatan dan lingkungan serta pendidikan masing-masing berada di posisi 65 dan 63, menjadikannya indikator dengan kinerja terendah dalam laporan tersebut.
Baca Juga: BGN Mulai Pangkas Penerima MBG, Anggaran Dialihkan ke Ibu Hamil dan Daerah 3T Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News