KONTAN.CO.ID - Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun menembus level psikologis 5% pada Senin (14/9/2026), untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Kenaikan yield tersebut terjadi menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan ini. Bank sentral Amerika Serikat (AS) diperkirakan kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi yang masih berada di atas target.
Baca Juga: Kredit Baru China Bangkit pada Agustus 2026, tetapi Jauh di Bawah Ekspektasi Melansir
Reuters, Yield US Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5,0142% sebelum kembali turun di bawah level tersebut. Terakhir, yield berada di kisaran 4,973%, relatif tidak berubah dibandingkan penutupan sebelumnya. Strategis suku bunga AS di TD Securities Molly Brooks mengatakan, level 5% merupakan batas psikologis penting bagi investor. "Ini jelas merupakan level psikologis yang penting. Jika berbicara dengan investor, mereka sering memiliki angka bulat tertentu yang menjadi patokan, misalnya ketika mencapai level tertentu, mereka mulai melihatnya sebagai peluang untuk membeli saat harga turun," ujar Brooks. Menurut dia, kemampuan yield bertahan di bawah 5% dapat menunjukkan masih adanya permintaan investor terhadap surat utang AS sekaligus menjadi level resistance.
Baca Juga: China Perketat Wilayah Udara Beijing Usai Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi Sebaliknya, jika yield mampu menembus dan bertahan di atas 5%, hal tersebut dapat menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran investor terhadap obligasi tenor panjang dan membuka peluang kenaikan yield lebih lanjut. Kenaikan yield US Treasury dalam sebulan terakhir dipicu kombinasi sejumlah faktor, mulai dari inflasi tinggi, meningkatnya ekspektasi suku bunga, tingginya penerbitan utang pemerintah dan korporasi, prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS dalam jangka panjang. Managing Director Mischler Financial Tom di Galoma mengatakan, peningkatan anggaran dan defisit AS turut menjadi perhatian pasar. "Anggaran dan defisit serta keseluruhan struktur utang kami terus meningkat," kata di Galoma.
Baca Juga: Miliarder Afrika Aliko Dangote IPO Kilang Minyak, Target Dana US$2,1 Miliar Inflasi panas dorong ekspektasi kenaikan suku bunga Yield US Treasury kembali terdorong naik setelah data pada Jumat (11/9) menunjukkan inflasi konsumen AS meningkat pada Agustus. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga untuk menahan laju inflasi yang masih jauh di atas target 2%. "Ini mungkin menjadi paku terakhir di peti mati," ujar di Galoma. Tekanan inflasi juga berpotensi meningkat akibat lonjakan harga minyak. Harga minyak naik lebih dari 4% pada Senin setelah serangkaian serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Timur Tengah memperburuk kekhawatiran gangguan pasokan. Di sisi lain, pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Pengusaha menambah 162.000 pekerjaan pada bulan lalu, memperkuat pandangan bahwa perekonomian AS masih memiliki daya tahan.
Baca Juga: Akibat Konflik Timur Tengah, Biaya Tambahan Transaksi Minyak Naik Tinggi Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 89% pada akhir pertemuan dua hari yang akan berlangsung hingga Rabu. Selain keputusan suku bunga, investor juga akan mencermati proyeksi suku bunga terbaru The Fed atau dot plot. Proyeksi tersebut dapat memberikan petunjuk apakah sebagian pejabat The Fed masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini. Dalam proyeksi kuartalan terakhir pada pertemuan Juni, sebanyak sembilan pejabat The Fed memperkirakan masih ada kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.
Sementara itu, yield US Treasury tenor dua tahun yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed turun 0,53 basis poin menjadi 4,639%. Selisih yield atau
spread antara US Treasury tenor dua tahun dan 10 tahun menyempit menjadi 33 basis poin. Perhatian investor juga akan tertuju pada permintaan terhadap surat utang tenor panjang. Departemen Keuangan AS dijadwalkan melelang obligasi tenor 20 tahun senilai US$ 13 miliar pada Selasa. Selain itu, pemerintah AS akan melelang US Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) tenor 10 tahun senilai US$ 19 miliar pada Kamis.