Alat Deteksi Stanting Buatan Anak Bangsa Ini Raih Penghargaan dari PM Jepang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prevalensi stunting di Indonesia menurut Kementerian Kesehatan di tahun 2022 mencapai 21,6%. Menurut UNICEF, stunting disebabkan ibu yang kekurangan nutrisi saat kehamilan. Faktor lain adalah anak kekurangan gizi dalam dua tahun pertama usianya, dan sanitasi yang buruk.

Untuk mencegah terjadinya stunting pada anak, penting untuk melakukan pemeriksaan secara rutin. Salah satu produk alat pemeriksaan stanting adalah TeleCTG.

“Telectj adalah produk medical device untuk proses pemeriksaan stanting yang dibuat oleh anak-anak bangsa milenial di bawah naungan perusahaan starup kalahyudha yang fokus di kesehatan preventiv,” kata Co founder TeleCTG Roy Maningkas dalam keterangannya, Sabtu (16/12).


Baca Juga: Metranet Dukung Percepatan Penurunan Angka Stunting di Surakarta

TeleCTG, produk unggulan dari Elektra Healthcare di bawah Kalayudha Group Indonesia, sebuah perusahaan Preventive healthcare Innovation Hub.

“Kami berharap produk medikal yg dibuat oleh anak2 muda bangsa dan apalagi berkwalitas dapat digunakan oleh pemerintah untuk menunjang penanganan kesehatan di Indonesia,” terangnya.

Anggota Dewan Penasihat Kesetaraan Gender (GEAC) G7, Anda Sapardan, dan co-founder TeleCTG turut serta dalam pertemuan penting di Jepang yang membahas isu kesetaraan gender dan kesehatan Ibu dan Anak.

Dalam pertemuan tersebut juga dihadiri Perdana Menteri Jepang, KISHIDA Fumio. Undangan bertemu dengan Perdana Menteri Jepang ini merupakan agenda utama dari  tim penasihat independen G7 GEAC  (Gender Equality Advisory Council) yang dipimpin oleh Dr. Sawako Shirahase dari Universitas Tokyo.

Baca Juga: Mulai 2024, Kemenkes Distribusikan Alkes ke Posyandu untuk Pencegahan Stunting

“Kami bangga atas penghargaan dari perdana mentri Jepang terhadap salah satu co founder kami. Ini artinya kita punya sumber daya manusia yang juga siap mengabdi buat bangsa khususnya bidang kesehatan,” terang Roy.

Acara yang secara keseluruhan berlangsung selama 15 menit ini dimulai pukul 16:15 WIB. Anda Sapardan berkesempatan menyampaikan pentingnya kerjasama sektor pemerintah dan swasta atau PPP yang merupakan bagian dari rekomendasi yang disampaikan tim G7 GEAC kepada PM Jepang. Jepang merupakan presiden untuk G7 tahun 2023 ini.

Dalam rangkaian acara terkait GEAC selama 4 hari yang diorganisir oleh kementerian luar negeri Jepang, Ibu Anda mendapatkan beberapa kesempatan penting untuk memberikan penjelasan mengenai kesehatan ibu dan anak sebagai bagian dari masalah terkait kesetaraan yang perlu diselesaikan.

Salah satunya dalam forum diskusi bersama Sasakawa Peace Foundation dan juga ketua dari inisiatif PM Kishida - Triple I GH (Impact Investment Initiative for Global Health), Ken Shibusawa. Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu parameter target GEAC.  

Hal ini sejalan dengan upaya TeleCTG yang saat ini tengah menjalankan kerjasama dengan JICA Jepang dalam pembangunan Telemedicine D2D.

Baca Juga: Hingga 5 Desember, Kemenkeu Salurkan Anggaran Penurunan Stunting Rp 74,18 Triliiun

Proyek ini bertujuan meningkatkan pelayanan kesehatan di daerah pedesaan dan pulau-pulau di Indonesia. Program dimulai di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, melibatkan Rumah Sakit Universitas Hasanudin, RSUD KH Hayyung, dan beberapa puskesmas di pulau tersebut.

Dalam laporan akhir GEAC, delapan anggota GEAC, yang dipimpin Dr. SHIRAHASE, menyampaikan rekomendasi berjudul "Gender Mainstreaming for an Inclusive, Peaceful, and Just Society".

Mereka menyatakan harapan kuat agar Jepang dan anggota G7 lainnya terus mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan melalui pengarusutamaan gender  dengan memanfaatkan empat pilar rekomendasi dalam laporan akhir tersebut.

Baca Juga: Meningkatkan Kesejahteraan Anak: Peran APBN Indonesia

Perdana Menteri KISHIDA menyambut baik penyerahan laporan akhir ini setelah rangkuman rekomendasi yang diajukan pada Mei 2023. Beliau mengulangi apresiasinya terhadap kontribusi GEAC dalam diskusi G7 untuk mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Lebih lanjut, Perdana Menteri menyatakan keinginannya untuk terus memimpin upaya global mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan gadis dalam segala keragaman mereka, serta untuk lebih memajukan pengarusutamaan gender.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto