ALFI Ungkap Tantangan Logistik dalam Mendukung Hilirisasi Industri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri logistik memegang peran penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur hilirisasi di sektor minyak dan gas (migas) maupun pertambangan. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya, mengatakan kebutuhan logistik untuk proyek hilirisasi mencakup layanan international forwarding untuk transaksi pengadaan peralatan, bahan baku, dan mesin industri.

Selain itu, dibutuhkan fasilitas pergudangan untuk penyimpanan bahan baku maupun produk akhir, serta moda transportasi yang memadai untuk mendistribusikan bahan baku, bahan penolong, dan barang jadi.


Baca Juga: Spindo (ISSP) Andalkan Pipa Berstandar Internasional untuk Garap Proyek Migas

Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam mendukung proyek hilirisasi adalah pengangkutan material strategis, seperti pipa baja berukuran besar, pelat baja tebal, alat berat, hingga bahan kimia khusus.

"Ketersediaan akses jalan yang layak menjadi tantangan utama, selain ketersediaan moda angkut dan peralatan bongkar muat yang memenuhi standar, sesuai regulasi (comply), serta ekonomis," ujar Trismawan kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).

Ia menilai konektivitas infrastruktur transportasi juga masih perlu diperkuat. Hingga saat ini, jaringan jalan yang menghubungkan pelabuhan dengan kawasan industri di sejumlah daerah belum sepenuhnya mampu mendukung angkutan berat.

"Masih diperlukan infrastruktur jalan yang memiliki kapasitas daya dukung jalan untuk angkutan berat," katanya.

Baca Juga: Infrastruktur Logistik Jatim Siap Dukung Hilirisasi Tambang dan Migas

Dari sisi fasilitas penyimpanan, Trismawan mengatakan sejumlah perusahaan logistik berskala besar telah memiliki gudang yang memenuhi standar untuk melayani industri hilir. Namun, fasilitas tersebut masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan beberapa lokasi proyek strategis nasional di luar Jawa.

Meski demikian, ia menegaskan pelaku usaha logistik siap menambah investasi fasilitas pergudangan apabila terdapat peluang usaha yang menjanjikan dari pengembangan industri hilirisasi.

Dalam pengelolaan rantai pasok, perusahaan logistik menyesuaikan proses distribusi dengan jadwal produksi proyek serta kesiapan pemasok bahan baku dan komponen penunjang di berbagai lokasi.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pengiriman berjalan tepat waktu mengingat proyek hilirisasi memiliki tenggat pembangunan yang ketat.

Khusus untuk sektor migas, Trismawan menyebut skema rantai pasok telah dirancang, dikaji, dan terus dievaluasi bersama para pemangku kepentingan, termasuk SKK Migas, guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan aspek keselamatan dari kegiatan industri migas, mulai dari hulu hingga hilir.

Baca Juga: Pabrik Unit 7 Spindo Segera Beroperasi, Kapasitas Produksi Diproyeksi Meningkat

Ke depan, ALFI berharap pemerintah memberikan kepastian regulasi jangka panjang agar dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi di sektor logistik. Selain itu, diperlukan penyederhanaan perizinan melalui sistem yang lebih terintegrasi.

”Hal ini agar tidak tiap kegiatan operasional logistik harus izin perusahaan tersendiri,” kata Trismawan.

Di samping itu, Trismawan juga mendorong penyederhanaan skema perpajakan agar dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia, baik di pasar domestik maupun global. Menurutnya, dukungan regulasi tersebut akan memperkuat peran industri logistik dalam menopang keberhasilan program hilirisasi nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News