Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad, Keberadaan Mojtaba Masih Misterius



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran menggelar pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Kamis (9/7) di kota suci Mashhad, timur laut Iran. Prosesi tersebut berlangsung di kompleks Makam Imam Reza, salah satu situs paling suci bagi umat Syiah.

Pemakaman ini berlangsung setelah sepekan rangkaian prosesi duka, pawai massa, dan upacara penghormatan yang digelar di berbagai wilayah Iran dan Irak. Rangkaian acara tersebut berlangsung di tengah kembali memanasnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat setelah berakhirnya masa gencatan senjata beberapa pekan sebelumnya.

Ribuan warga memadati jalan-jalan di Mashhad sejak pagi hari. Mereka mengibarkan bendera Iran, membawa foto mendiang Ali Khamenei, serta mengangkat berbagai poster berisi slogan-slogan revolusi ketika iring-iringan jenazah melintas menuju lokasi pemakaman.


Selama sepekan terakhir, jenazah Khamenei juga dibawa berkeliling ke sejumlah kota di Iran dan Irak. Para pemimpin ulama Republik Islam Iran mendorong masyarakat untuk menghadiri prosesi tersebut sebagai simbol kekuatan dan semangat ideologi negara.

Baca Juga: Rekor! Juni 2026 Jadi Bulan Terpanas di Eropa Barat Sepanjang Sejarah

Meski Iran berhasil bertahan dari konflik berkepanjangan dengan dua musuh utamanya, yakni Amerika Serikat dan Israel, negara itu masih menghadapi tantangan domestik yang besar. Warisan pemerintahan Ali Khamenei selama 37 tahun juga tetap menjadi perdebatan di dalam negeri.

Mojtaba Khamenei Belum Muncul ke Publik

Keberadaan Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei yang telah ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran oleh Majelis Ulama sekitar sepekan setelah wafatnya sang ayah, hingga kini masih menjadi tanda tanya bagi publik Iran.

Ia belum pernah tampil di depan umum sejak perang dimulai dengan serangan yang menewaskan Ali Khamenei pada 28 Februari lalu. Selama ini Mojtaba hanya mengeluarkan pernyataan tertulis tanpa disertai foto, rekaman video, maupun suara.

Menurut sejumlah sumber senior di Teheran, Mojtaba mengalami luka serius dalam serangan yang sama. Wajahnya mengalami cedera berat dan beberapa anggota tubuhnya terluka parah.

Sumber tersebut menyebutkan bahwa kondisinya kini terus membaik, namun belum cukup pulih untuk tampil di depan publik. Aparat keamanan Iran juga disebut membatasi kemunculannya sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan lanjutan dari Amerika Serikat.

Massa Serukan Balas Dendam terhadap Donald Trump

Menjelang prosesi pemakaman di Mashhad, massa yang berkumpul meneriakkan slogan-slogan yang menyerukan pembalasan atas kematian Ali Khamenei.

Baca Juga: AS Luncurkan Serangan Baru ke Iran, Ketegangan Selat Hormuz Kembali Memanas

"Saya bersumpah demi darah Pemimpin Tertinggi, Trump, kami akan membunuhmu!" teriak massa secara bersama-sama. Sejumlah perempuan juga terlihat membawa poster bertuliskan "Bunuh Trump".

Sebelum dimakamkan di Mashhad, jenazah Ali Khamenei bersama empat anggota keluarganya yang turut tewas dalam serangan tersebut telah diarak di Teheran, kota suci Qom, serta dua kota suci Syiah di Irak, yakni Najaf dan Karbala.

Di setiap lokasi, ribuan pelayat memadati jalan-jalan sambil melantunkan ratapan khas Syiah dan meneriakkan slogan-slogan revolusi.

Dalam ajaran Syiah, konsep kematian sebagai syahid memiliki posisi yang sangat penting. Kematian Ali Khamenei akibat serangan musuh asing dinilai memperkuat narasi keagamaan dan politik yang telah lama menjadi bagian dari identitas Republik Islam Iran.

Warisan Kepemimpinan Khamenei Masih Diperdebatkan

Pemakaman Ali Khamenei berlangsung pada masa transisi penting bagi Iran setelah hampir empat dekade kepemimpinannya. Peristiwa ini juga terjadi hanya beberapa bulan setelah gelombang demonstrasi nasional kembali mengguncang Republik Islam Iran.

Baca Juga: Harga Emas Melonjak 0,8% ke US$ 4.107,69: Ini Pemicu Utama Kenaikan di Sore Ini

Aparat keamanan menumpas aksi protes tersebut, yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi akibat tekanan sanksi internasional. Dalam operasi penindakan itu, ribuan demonstran dilaporkan tewas, mencerminkan pola kekerasan yang juga terjadi pada berbagai gelombang protes sebelumnya.

Sejumlah analis menilai Iran keluar dari konflik terbaru dengan posisi strategis yang tetap kuat karena masih mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Namun, negara itu juga mengalami kerusakan luas akibat perang yang semakin memperburuk kondisi ekonominya.

Ali Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada 1989, satu dekade setelah Revolusi Islam Iran. Selama masa kepemimpinannya, ia memperkuat kendali atas kekuasaan politik, ekonomi, dan militer melalui lembaga kepemimpinan tertinggi.

Proses tersebut berlangsung seiring meningkatnya pengaruh Korps Garda Revolusi Islam Iran, yang secara bertahap menggeser peran presiden dan parlemen terpilih dalam pengambilan keputusan strategis.

Mojtaba Khamenei sendiri disebut memperoleh dukungan dari Garda Revolusi dalam penunjukannya sebagai pemimpin baru. Kelompok tersebut kini dipandang sebagai kekuatan paling dominan dalam arah politik dan strategi keamanan Iran.