ALI Soroti Kemacetan Bongkar Muat, Biaya Logistik Tertekan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menyoroti kemacetan aktivitas bongkar muat kontainer di pelabuhan yang berdampak pada peningkatan biaya logistik nasional, terutama bagi pelaku ekspor dan impor.

Kemacetan tersebut dipicu oleh beberapa faktor. Di antaranya keterbatasan jumlah kontainer yang memicu persaingan di kalangan pelaku usaha, serta kondisi alat bongkar muat seperti crane yang dinilai sudah menua sehingga menghambat kecepatan operasional di pelabuhan.

Situasi ini membuat proses bongkar muat menjadi lebih lambat dan berujung pada kenaikan berbagai komponen biaya, termasuk tarif sewa kontainer.


Baca Juga: Erajaya: Penjualan Laptop dan Smartphone Meningkat saat Lebaran 2026

Ketua Umum ALI, Mahendra Rianto, mengatakan persoalan ini sebenarnya sudah berulang dan telah menjadi perhatian berbagai asosiasi logistik, baik sebelum maupun setelah periode Hari Raya Idulfitri.

“Sebetulnya kami dan beberapa asosiasi logistik lainnya sudah berkali-kali, sebelum dan sesudah Hari Raya, memberikan tanggapan atas SKB untuk Hari Raya Idulfitri ini. Namun, kenyataannya di lapangan tetap tidak terlaksana dan potensi kemacetan pasca-Hari Raya pun akan terus terjadi," ujarnya kepada Kontan, Rabu (25/3).

Menurut Mahendra, meski kebijakan telah disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan aktivitas logistik selama Lebaran, implementasi di lapangan belum berjalan optimal. Akibatnya, kemacetan masih berpotensi terjadi, khususnya setelah periode libur panjang.

Di sisi lain, keterbatasan kontainer turut memperparah kondisi. Pelaku ekspor-impor harus berebut kontainer yang tersedia, sehingga harga sewa mengalami kenaikan. Dampaknya, biaya logistik meningkat dan berpotensi menekan efisiensi rantai pasok.

Selain itu, faktor infrastruktur juga menjadi tantangan. Sejumlah alat bongkar muat yang sudah berusia tua dinilai menghambat produktivitas pelabuhan. Kondisi ini menyebabkan waktu tunggu kapal menjadi lebih panjang dan memperlambat distribusi barang.

ALI menilai, tanpa perbaikan implementasi kebijakan serta peningkatan kapasitas infrastruktur, persoalan ini berpotensi terus berulang setiap tahun, terutama pada periode puncak seperti Lebaran.

Baca Juga: Tiket Kereta Lebaran 2026 Sudah Terjual 96,5%, Arus Balik Masih Tinggi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News