Alibaba Danai AI Video, Persaingan Memanas



KONTAN.CO.ID - HANGZHOU. Persaingan teknologi kecerdasan buatan (AI) video di China kian memanas dan menyedot dana jumbo. Divisi komputasi awan milik Alibaba Group Holding Ltd. baru saja memimpin pendanaan senilai 2 miliar yuan atau sekitar US$ 293 juta ke ShengShu Technology.

Suntikan modal ini mempertegas satu hal, yakni perang AI video bukan sekadar adu inovasi, melainkan juga adu ketebalan kantong. Apalagi, pendanaan tersebut datang hanya dua bulan setelah startup asal Beijing itu mengantongi tambahan 600 juta yuan.

Mengutip Bloomberg (10/4), ShengShu bukan pemain sembarangan. Perusahaan ini mengembangkan Vidu, generator video berbasis AI yang kini ikut bertarung di segmen yang sangat padat. Nama-nama besar seperti ByteDance Ltd., Alibaba, hingga Kuaishou Technology sudah lebih dulu menggelontorkan investasi besar di lini serupa. Bahkan, pemain baru seperti PixVerse turut meramaikan persaingan.


Kondisi ini mencerminkan pergeseran strategi industri AI global. Setelah OpenAI menghentikan pengembangan Sora untuk fokus pada model GPT, ruang kosong di segmen AI video langsung diperebutkan oleh perusahaan-perusahaan China. Momentum ini dimanfaatkan untuk mengejar dominasi, bukan hanya di pasar domestik tetapi juga global.

Namun, derasnya arus investasi juga memunculkan pertanyaan, seberapa berkelanjutan model bisnis AI video yang sangat padat modal ini? Pengembangan teknologi video berbasis AI membutuhkan infrastruktur komputasi mahal, data besar, dan waktu yang tidak singkat untuk monetisasi.

Di tengah ketatnya kompetisi, ShengShu mencoba menonjolkan diferensiasi. Model terbaru Vidu mampu menghasilkan video dan audio tersinkronisasi hingga 16 detik, lengkap dengan fitur komposisi multi-shot dan kontrol kamera. Meski sempat masuk jajaran teratas saat dirilis Januari lalu, kini posisinya turun ke peringkat sembilan dalam pemeringkatan industri.

Baca Juga: Huawei Kian Percaya Diri, Chip AI Baru Dilirik ByteDance dan Alibaba

Tekanan kompetisi juga datang dari inovasi baru. Pekan ini, kemunculan generator video “Happy Horse” yang belum diketahui pengembangnya memicu spekulasi dan lonjakan minat investor terhadap saham AI China. Produk tersebut bahkan disebut melampaui performa Seedance 2 milik ByteDance dalam layanan text-to-video.

Di sisi lain, langkah Alibaba memperkuat investasi di startup AI bukan tanpa agenda. Raksasa teknologi ini tengah mendorong pertumbuhan bisnis komputasi awan, yang kini menjadi mesin pendapatan dengan pertumbuhan tercepat, melampaui e-commerce. Dengan mendanai startup seperti ShengShu, Alibaba berharap penggunaan layanan cloud-nya ikut terdongkrak.

Didirikan pada 2023 oleh profesor Universitas Tsinghua, Zhu Jun, ShengShu terbilang agresif. Perusahaan mengklaim pertumbuhan pengguna dan pendapatan lebih dari 10 kali lipat sepanjang 2025, meski tanpa membuka angka detail sebuah praktik yang lazim namun menyisakan ruang skeptisisme.

Ekspansi Vidu pun sudah menjangkau lebih dari 200 negara dan wilayah, menyasar sektor animasi, iklan, hingga film. Bahkan, ShengShu mulai memperluas cakupan teknologi dengan merilis Motus, model AI open-source yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman mesin terhadap dunia nyata.

Ke depan, dana segar ini akan diarahkan untuk mengembangkan general world model ambisi besar yang jika tercapai bisa menjadi fondasi AI generasi berikutnya. Namun, dengan persaingan yang semakin brutal dan kebutuhan modal yang terus membengkak, jalan menuju profitabilitas tetap menjadi tanda tanya besar.

Baca Juga: AS Bakal Masukkan Alibaba ke Daftar Perusahaan Terkait Militer China

TAG: