KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (
ALII) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (
SILO) akan keluar dari indeks FTSE Russell efektif 21 September 2026. Meski memenuhi ambang batas kapitalisasi pasar dan likuiditas, kedua saham tersebut terdepak dari indeks karena tidak memenuhi kriteria
surveillance stock screen. ALII dikeluarkan dari indeks GEIS Micro Cap, sedangkan SILO dikeluarkan dari GEIS Small Cap. Pengeluaran tersebut berpotensi memicu tekanan jual dari dana pasif atau passive fund yang melakukan penyesuaian portofolio mengikuti perubahan indeks FTSE Russell. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama menilai, keluarnya ALII dan SILO dari indeks FTSE Russell lebih banyak berdampak terhadap pergerakan harga dalam jangka pendek. Penyesuaian portofolio oleh fund yang mengikuti indeks berpotensi memicu tekanan jual terhadap kedua saham.
Baca Juga: The Fed Naikkan Bunga, Pemerintah Tetap Bidik Pasar Global Lewat Panda Bond “Kami melihat keluarnya ALII dan SILO dari FTSE lebih banyak memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek, terutama karena fund yang mengikuti indeks perlu melakukan penyesuaian portofolio. Tapi ini bukan berarti fundamental kedua perusahaan langsung memburuk,” ujar Kevin kepada Kontan, Kamis (17/9/2026). Menurut Kevin, sentimen tersebut lebih berkaitan dengan kondisi pasar dan potensi tekanan jual sementara, bukan perubahan langsung terhadap fundamental emiten. Menjelang tanggal efektif, tekanan jual masih berpotensi muncul karena investor institusi yang mengikuti indeks FTSE perlu mengurangi kepemilikannya. “Sebagian sentimen negatif kemungkinan sudah mulai tercermin di harga karena perubahan indeks ini sudah diketahui pasar sebelumnya. Besarnya tekanan juga sulit dihitung secara pasti karena belum ada data publik yang dapat memberi tahu,” jelasnya. Sementara itu, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, potensi selling pressure masih terbuka menjelang tanggal efektif karena investor dapat melakukan rebalancing lebih awal. “Keluarnya ALII dan SILO dari indeks FTSE Russell berpotensi memberikan tekanan jangka pendek, terutama karena adanya penyesuaian portofolio dari passive fund yang mengikuti indeks tersebut,” kata Elandry. Menurut Elandry, besarnya tekanan jual akan bergantung pada bobot masing-masing saham dalam indeks serta jumlah dana pasif yang mengikuti FTSE Russell. Dengan demikian, estimasi outflow secara pasti belum dapat ditentukan hanya berdasarkan keputusan perubahan indeks. Elandry juga menilai dampak rebalancing FTSE Russell terhadap saham domestik sebelumnya cenderung lebih terbatas dibandingkan MSCI. Karena itu, tekanan jual belum tentu terlalu dalam dan biasanya paling terasa di sekitar periode efektif
rebalancing.
Baca Juga: Harga Energi Mulai Terkoreksi, Geopolitik Masih Bayangi Pasar hingga Akhir 2026 Kevin melihat dampak keluarnya kedua saham dari indeks cenderung lebih besar dalam jangka pendek, terutama di sekitar periode penyesuaian indeks. Setelah proses rebalancing selesai, perhatian pasar biasanya kembali tertuju pada fundamental masing-masing emiten. “Yang bisa menjadi isu lebih panjang justru konsentrasi kepemilikan dan likuiditas saham, karena kalau kondisi tersebut tidak berubah, minat investor institusi bisa tetap terbatas dan peluang untuk masuk kembali ke indeks juga menjadi lebih kecil,” ungkap Kevin. Senada, Elandry menilai keluarnya saham dari indeks pada dasarnya memengaruhi capital flow dan likuiditas, bukan langsung mengubah pendapatan maupun laba perusahaan. “Jadi selama tidak ada perubahan material pada kinerja bisnis, tekanan akibat keluarnya dari FTSE seharusnya tidak otomatis mengubah prospek jangka panjang ALII maupun SILO,” ujar Elandry. Dari sisi fundamental, Kevin melihat prospek operasional ALII masih cukup baik dengan pendapatan dan laba yang masih tumbuh. Namun, bisnis ALII yang berfokus pada logistik batu bara membuat kinerjanya tetap bergantung pada volume angkutan dan aktivitas pelanggan. Sementara itu, SILO masih mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba yang cukup solid. Elandry menilai SILO relatif lebih defensif karena ditopang bisnis kesehatan dan pertumbuhan operasional. Pada semester I 2026, pendapatan SILO tumbuh sekitar 10,8% secara tahunan, sedangkan laba bersih meningkat sekitar 27,9%. Menurut Elandry, kinerja tersebut menunjukkan fundamental SILO masih cukup solid. Adapun ALII dinilai lebih cyclical karena bisnis logistiknya berkaitan erat dengan aktivitas pertambangan dan batu bara. Karena itu, prospek ALII lebih sensitif terhadap volume angkutan, harga komoditas serta kontrak logistik yang diperoleh perusahaan.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melemah Terbatas Jumat (18/9), Simak Faktor Pendorongnya Untuk strategi investasi, Kevin memilih sikap wait and see terhadap ALII dan SILO sembari menunggu tekanan sentimen akibat keluarnya kedua saham dari indeks FTSE Russell mereda. Elandry juga menyarankan investor menunggu tekanan akibat rebalancing mereda dan melihat terbentuknya support baru sebelum melakukan akumulasi. Menurut dia, SILO dapat dicermati pada target harga Rp3.300-Rp3.500 per saham, sedangkan ALII di kisaran Rp1.450-Rp1.550 per saham. Pada penutupan perdagangan Kamis, (17/9/2026), saham SILO melemah 1,24% ke Rp1.995 per saham. Sementara saham ALII juga turun 1,38% ke level Rp715 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News