Aliran Minyak di Selat Hormuz Turun 32%, Harga Minyak Dunia Makin Memanas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasokan minyak dunia menghadapi tekanan di tengah konflik Timur Tengah yang mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia sepanjang pekan ini.

Mengacu pada data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di level US$ 101,41 per barel pada Jumat (16/10/2026), naik 3,51% secara harian.

Sementara itu, harga minyak Brent ditutup di level US$ 109,86 per barel, menguat 3,72%. Melansir Trading Economics, harga WTI naik 10,41% secara mingguan, sedangkan Brent naik 4,91%.


Berdasarkan data aliran minyak hingga 13 Oktober 2026, rata-rata volume minyak yang melewati Selat Hormuz turun menjadi 11,62 juta barel per hari, dari angka dasar 17,15 juta barel per hari. Penurunan tersebut mencapai sekitar 32,2%.

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun Tipis, Pasar Timbang Kemungkinan Kenaikan Bunga The Fed

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memengaruhi pasokan minyak dunia.

“Sepekan terakhir, harga minyak terutama digerakkan oleh konflik Timur Tengah. Serangan Iran terhadap tanker di Selat Hormuz menurunkan aliran minyak dunia dari sekitar 17,15 juta menjadi 11,62 juta barel per hari. Pasar pun memasukkan premi risiko yang besar ke harga,” ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Tekanan pasokan juga datang dari Rusia. Serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak Rusia turut membatasi pasokan bahan bakar. Di Amerika Serikat (AS), persediaan minyak mentah tercatat turun 8,56 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober 2026.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah upaya dilakukan untuk meredam kenaikan harga. Sutopo menyebut, pelepasan cadangan minyak darurat oleh Badan Energi Internasional (IEA) sebesar 100 juta barel dan wacana pelonggaran sanksi terhadap kapal tanker yang tergolong shadow fleet menjadi langkah yang diharapkan dapat membantu menahan harga.

Namun, dampak upaya tersebut sejauh ini belum cukup besar untuk mengimbangi gangguan pasokan akibat konflik.

“Di sisi lain, ada upaya menahan kenaikan, yaitu pelepasan cadangan darurat IEA sebesar 100 juta barel dan wacana pelonggaran sanksi pada tanker ‘shadow fleet’, tetapi dampaknya belum terlalu terasa,” tutur Sutopo.

Baca Juga: Pasar Saham Amblas Imbas Pengumuman MSCI, Ini Saran untuk Investor

Ke depan, Sutopo memperkirakan harga minyak masih bergerak dalam rentang tinggi hingga akhir 2026, dengan arah pergerakan yang sangat bergantung pada perkembangan geopolitik. Sementara itu, harga Brent berada di kisaran US$ 95-US$ 110 per barel, sedangkan WTI bergerak pada rentang US$ 88-US$ 102 per barel.

Sutopo bilang, tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dapat meredakan tekanan harga minyak. Dalam skenario tersebut, harga Brent berpotensi turun ke kisaran US$ 80 per barel. Sebaliknya, eskalasi serangan dapat mendorong harga Brent menembus US$ 120 per barel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News